Menko Airlangga Buka-bukaan Cara Kejar Pertumbuhan Ekonomi 3,7 Persen

Ekonomi | limapagi.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 13:23
Menko Airlangga Buka-bukaan Cara Kejar Pertumbuhan Ekonomi 3,7 Persen

LIMAPAGI - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sampai akhir tahun ini sekitar 3,7 persen sampai 4,5 persen. Di tengah lonjakan kasus harian Covid-19, pemerintah akan berupaya terus menjaga aktivitas ekonomi yang berbasis ekspor dan manufaktur.

"Sampai akhir tahun kita melihat proyeksinya secara konservatif sekitar 3,7 persen dan bisa sampai 4,4 persen atau 4,5 persen. Itu yang akan dijaga untuk pertumbuhan ekonomi di outlook semester kedua ini," kata dia dalam konferensi pers PPKM Mikro secara virtual, Rabu, 7 Juni 2021.

Airlangga menegaskan, aktivitas ekonomi akan terus dijaga. Dalam hal ini aktivitas ekonomi berbasis ekspor atau manufaktur. Sebab, PMI Indonesia masih terus berada di atas rekor tertinggi.

"Kita berada dalam situasi yang kemarin optimis karena PMI kita masih terus di atas record hike. Walaupun terjadi penurunan tetapi masih di level 53, sehingga demikian ekspor perlu kita jaga dengan momentum harga komoditas," ujarnya.

Untuk itu, kata Airlangga, Kementerian Perindustrian telah didorong untuk menjaga sektor yang esensial maupun kritikal. Dengan demikian target pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini sebesar 7 persen bisa tercapai.

"Kita masih optimis bahwa di kuartal II ini pertumbuhan ekonomi 7 persen masih bisa dicapai, sehingga secara agregat nanti di semester satu di level 3,3 persen pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Airlangga menambahkan, ekonomi akan baik kalau penanganan dan penyebaran pandemi Covid-19 ini bisa terkendali. Pasalnya, revisi terhadap pertumbuhan ekonomi tergantung daripada seberapa jauh varian delta mutasi Covid-19 bisa tertangani secara baik.

Apalagi, kontribusi Pulau Jawa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah 60 persen. Dengan adanya pengetatan mobilitas maka target penurunan mobilitas bisa ditekan di bawah 50 persen.

"Idealnya kita sampai di bawah 30 persen. Tentu akan berefek pada aktivitas ekonomi," tuturnya.

Artikel Asli