Bedanya Negara Maju dan Indonesia Kelola Defisit Keuangan saat Covid-19

Ekonomi | limapagi.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 11:03
Bedanya Negara Maju dan Indonesia Kelola Defisit Keuangan saat Covid-19

LIMAPAGI - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan imbas pandemi Covid-19 membuat negara maju mengalami defisit keuangan antara 15 hingga 20 persen. Upaya itu terjadi untuk memberikan stimulus ekonomi sehingga pertumbuhannya dapat bergerak lebih cepat.

Sekretaris Eksekutif Kemenko Perekonomian Raden Pardede mengatakan, semakin besar stimulus yang digelontorkan pemerintah maka penanganan wabah dan pemulihan ekonomi akan semakin cepat dilakukan. Kondisi ini pun tidak dapat dihindarkan oleh semua negara.

Inilah sebetulnya yang membedakan pola pemulihan dunia yang karena negara yang kaya mampu memberikan stimulasi ekonomi 20 persen dari defisitnya itu, kata Pardede dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu 7 Juli 2021.

Menurut dia, dalam menggelontorkan dana negara-negara dibagi menjadi tiga golongan yakni negara maju, menengah dan miskin. Untuk negara maju biasanya mereka berani mengguyur dana tak terbatas untuk stimulus.

Sedangkan negara berkembang seperti Indonesia hanya mampu menanggung defisit keuangan 5 hingga 6 persen. Sementara itu, negara miskin di kisaran angka 2 persen.

Kalau dalam keadaan sekarang ini dikatakan bagaimana agar tidak naik (defisit kuangan)? Itu tidak bisa dan tidak ada rumusannya sekarang ini, kata dia.

Pardede menambahkan, di tahun 2021 diperkirakan defisit keuangan Indonesia berada di level 5,3 hingga 5,7 persen. Pasalnya, pendapatan yang diterima negara menurun drastis dan diiringi dengan peningkatan pengeluaran yang tak dapat ditahan.

Jadi kenaikan ini dilihat dari dua hal yaitu penerimaan pajak yang turun dan pada saat bersamaan pengeluran naik, pungkasnya.

Artikel Asli