Pertumbuhan Kredit Bakal Seret

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:32
Pertumbuhan Kredit Bakal Seret

JAKARTA - Penurunan suku bunga dinilai belum mampu mempengaruhi permintaan kredit di masa pandemi Covid- 19. Karenanya, kredit perbankan pada 2021 bisa lebih rendah dari proyeksi awal tahun sebesar lima persen.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menyatakan, pada kondisi normal, tingkat suku bunga berpengaruh cukup signifikan mendorong permintaan kredit. Namun pada kondisi pandemi seperti saat ini, lanjutnya, permintaan kredit menjadi relatif dan tak elastis.

Wimboh menyampaikan penurunan suku bunga kredit belum berpengaruh signifikan terhadap permintaan kredit karena terdapat masalah struktural dimana sektor-sektor yang terdampak pandemi Covid-19 belum membutuhkan kredit, modal kerja, maupun investasi.

"Manufacturing belum full capacity operasinya seperti sebelum covid, apalagi berkaitan dengan pariwisata terutama turis yang global masih belum bisa masuk ini luar biasa dampaknya," kata Wimboh saat webinar Bisnis Indonesia Economic Outlook, Selasa (6/7).

Untuk itu, lanjutnya, pertumbuhan kredit sangat tergantung dari kepercayaan diri masyarakat dan dunia usaha terhadap pemulihan ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan dan aktivitas masyarakat.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) terbaru, pertumbuhan kredit perbankan pada April 2021 terkontraksi sebesar 2,3 persen (yoy), dengan nilai total kredit sebesar 5.482,2 triliun rupiah, lebih kecil dibandingkan kontraksi Maret 2021 yang sebesar 3,8 persen.

Secara bulanan (mom), pertumbuhan kredit pada April 2021 masih terkontraksi 0,3 persen. Namun demikian, secara year-to-date pertumbuhan kredit per April 2021 sudah menunjukkan angka positif, meskipun masih sangat kecil yaitu 0,01 persen.

Sedangkan untuk kualitas kredit, terjadi penurunan pada April 2021. Non Performing Loan (NPL) per April 2021 tercatat sebesar 3,22 persen, meningkat dibandingkan posisi Maret 2021 yang sebesar 3,17 persen.

Beberapa sektor dengan NPL tertinggi pada April 2021 adalah sektor pertambangan dan penggalian 7,66 persen, penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum 6,04, perikanan 5,69 persen, industri pengolahan 4,71 persen, dan perdagangan 4,58 persen. Berdasarkan OJK, NPL per Mei 2021 meningkat lagi menjadi 3,35 persen.

Adapun sebagai akibat penerapan PPKM Darurat Jawa- Bali, OJK mengkoreksi pertumbuhan kredit 2021 menjadi 6 persen plus minus 1 (yoy) dari yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 7 persen. "Tapi tetap kita dengan skenario harus extra effort setelah PPKM Darurat ini diterapkan, tentunya mobility bisa lebih tinggi dan apalagi turis global sudah dibuka," jelasnya.

Sulit Tercapai

Namun, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperingatkan peningkatan kasus Covid-19 pada Juni lalu bisa menghambat laju pemulihan ekonomi, yang bisa berdampak pada pelemahan pertumbuhan kredit. Karenanya, dia memperkirakan pertumbuhan kredit akan di bawah target.

"Pengalaman peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi pada Januari 2021 membutuhkan waktu sekitar tiga bulan menekan kasus tambahan menjadi level normal sekitar 5.000- 6.000 kasus per hari," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (6/7).

Artikel Asli