Tak Ada Panic Buying di NTB!

Ekonomi | lombokpost | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:07
Tak Ada Panic Buying di NTB!

MATARAM -Media sosial diramaikan dengan video yang menampilkan warga berebut susu kaleng di sebuah pusat perbelanjaan. Antisipasi fenomena panic buying di NTB, Dinas Perdagangan NTB melakukan sidak ke beberapa distributor dan retailer. Khususnya yang menjual aneka produk makanan dan minuman yang dipercaya dapat meningkatkan imun tubuh dalam masa pandemi ini.

Aman, masih dalam tahap normal untuk pembelian produk-produk tersebut, tidak sperti di Jawa, kesimpulan Kepala Dinas Perdagangan NTB Fathurrahman, Selasa (6/7).

Ia menuturkan, ada kekhawatiran jika permintaan tinggi mengakibatkan kelangkaan stok. Untuk itu, perlu menjaga perkembangan isu negatif atau hoax di masyarakat. Ditegaskan, tak ada gunanya melakukan panic buying. Itu justru mendorong oknum penjual nakal mematok harga lebih tinggi dan merugikan masyarakat. Pencegahan untuk tidak mengambil keuntungan dalam situasi pandemi begini, katanya.

Selain makanan dan minuman, ada juga pemantauan terhadap obat-obatan di apotek-apotek besar Mataram. Merujuk pada keputusan Kementerian Kesehatan RI No HK.1.7/Menkes/4826 tahun 2021, tentang harga eceran tertinggi (HET) obat. Diantaranya adalah obat Favipiravir 200 mg dengan HET per tablet Rp 22,5 ribu. Injeksi Remdesivir dalam bentuk vial HET Rp 510 ribu, kapsul Oseltamivir 75 mg dalam bentuk kapsul HET Rp26 ribu. Intravenous immunoglobulin (IVIG) 5 persen atau 25 ml dalam bentuk vial HET Rp3.262.300. IVIG 10 persen atau 25 ml dalam bentuk vial Rp3.965.000, IVIG 10 persen atau 50 ml dalam bentuk vial harga eceran tertinggi Rp6.174.900. Tablet Ivermectin 12 ml harga eceran tertinggi Rp7.500, Tocilizumab 400 mg atau 20 ml infus dalam bentuk vial harga eceran tertinggi Rp5.710.600, Tocilizumab 80 mg atau 4 ml infus dalam bentuk vial harga eceran tertinggi Rp1.162.200. Tablet Azithromycin 500 mg harga eceran tertinggi Rp1.700. Serta Azithromycin 500 mg dalam bentuk infus atau vial, harga eceran tertinggi Rp95.400.

Jika ditemukan distributor, retailer maupun apotek yang menjual diatas HET tersebut, maka akan dilakukan sejumlah tindakan. Karena ini kan merupakan instruksi langsung oleh kementerian, tegasnya.

Menurutnya, situasi yang masih terkendali dari panic buying ini disebabkan masyarakat yang lebih suka menggunakan obat-obatan tradisional. Seperti jamu, madu, teh kelor, dan sejenisnya. Didukung NTB juga memiliki beragam jenis susu yang bersifat tradisional untuk dikonsumsi. Jadi yang ini lebih digemari masyarakat, imbuhnya.

Salah satu pemilik ritel Yuaptagisa Baiq Puji mengatakan, sejauh ini tren belanja masyarakat masih sama seperti biasa. Tak dirasakannya sejumlah penurunan penjualan akibat PPKM Mikro yang ikut diterapkan di NTB. Stok beberapa komoditas produk makanan minuman kesehatan serta obat-obatan juga terpantau masih aman dari pihak distributor. Belum ada kelangkaan apalagi kenaikan harga, imbuhnya. (eka/r9)

Artikel Asli