Bos Didi Global Bukan Lagi Miliarder Gara-gara Investigasi China

Ekonomi | inewsid | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 06:37
Bos Didi Global Bukan Lagi Miliarder Gara-gara Investigasi China

SHANGHAI, iNews.id - Presiden perusahan transportasi China Didi Global, Jean Qing Liu tak lagi menjadi miliarder setelah harga saham perusahaan anjlok 27 persen pada Selasa pagi (6/7/2021). Merosotnya harga saham terjadi setelah regulator siber China (Cyberspace Administration of China) melakukan investigasi terhadap perusahaan.

Investigasi dilakukan dengan alasan risiko keamanan data. Selama penyelidikan, Didi dilarang mendaftarkan pengguna baru dan aplikasinya dilaporkan telah dihapus dari app stores .

Dalam keterangannya, Didi menyatakan akan berusaha memperbaiki masalah, meningkatkan kesadaran pencegahan risiko dan kemampuan teknologinya.

"(Selain itu) Melindungi privasi pengguna dan keamanan data, serta memberikan layanan yang aman dan nyaman bagi penggunanya," tulis Didi, dikutip dari Forbes , Rabu (7/7/2021).

Sementara soal penghapusan aplikasi perusahaan di app stores , menurut manajemen akan memberi dampak negatif pada pendapatan perusahaan di China.

Sementara itu, investigasi ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Didi mencatatkan saham perdananya (IPO) di Bursa Efek New York pada 30 Juni 2021. Pencatatan saham ini membuat kekayaan bersih Liu melambung menjadi 1,1 miliar dolar AS dan kekayaan CEO Didi Will Wei Cheng menjadi 4,4 miliar dolar AS.

Namun pada Selasa pagi, kekayaan Liu yang memiliki saham 1,6 persen di Didi, anjlok menjadi 920 juta dolar AS, membuatnya tidak lagi menjadi miliarder. Sedangkan kekayaan Cheng sebesar 3,8 miliar dolar AS karena 6,5 persen saham yang dimilikinya.

Liu mendirikan layanan panggilan taksi online bersama Cheng pada 2012, setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai direktur pelaksana di Goldman Sachs. Sekarang platform transportasi seluler terbesar di China ini memiliki lebih dari 493 juta pengguna aktif tahunan dengan transaksi harian rata-rata sebesar 41 juta.

Kendati demikian, perusahaan belum menghasilkan keuntungan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, Didi mencatat pendapatan 21,6 miliar dolar AS, tetapi membukukan kerugian bersih 1,6 miliar dolar AS.

Sementara itu, Didi bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang menjadi target investigasi Cyberspace Administration of China. Full Truck Alliance dan Kanzuhn Ltd juga menjadi subjek investigasi. Keduanya melakukan IPO pada Juni 2021 di Bursa New York dan NASDAQ.

Artikel Asli