Tak Hanya Morgan Stanley, Tiga Broker Asing Ini Juga Hengkang dari Indonesia

Ekonomi | inewsid | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 12:02
Tak Hanya Morgan Stanley, Tiga Broker Asing Ini Juga Hengkang dari Indonesia

JAKARTA, iNews.id - Hengkangnya broker saham PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia menambah panjang daftar broker asing yang meninggalkan Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun iNews.id, selain Morgan Stanley Sekuritas, tercatat ada tiga broker asing yang telah resmi hengkang dari Indonesia, sejak 2019-2020.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan hengkangnya broker asing sebagian besar disebabkan kebijakan perusahaan karena masalah pada induk perusahaan dan kerugian operasional.

Hingga kini belum diketahui pasti alasan Morgan Stanley hengkang dari Indonesia. Namun pengamat memperkirakan hal itu dipicu persaingan usaha yang semakin ketat dengan broker dalam negeri, serta efisiensi operasional yang dilakukan banyak perusahaan asing untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19. Sebagian besar broker asing menarik diri dari Indonesia dan beroperasi di Singapura untuk melayai bisnis di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Berikut daftar broker asing yang telah resmi hengkang dari Indonesia:

  1. PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia (MLSI)
    Warga berkerumun saat petugas mengevakuasi mayat diduga pelaku pembunuhan ke RS Bhayangkara. (Foto: MPI/Subhan Sabu)

PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia (MLSI) merupakan perusahaan sekuritas yang terafiliasi dengan perusahaan keuangan kelas dunia, yakni BofA Securities atau sebelumnya bernama Bank of America Merrill Lynch.

Sebelumnya Merrill Lynch merupakan salah satu bank investasi besar yang ada di bursa Wall Street, Amerika Serikat (AS), kemudian mengembangkan sayapnya menjadi ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

MLSI resmi berdiri di Indonesia. Kemudian pada 8 Januari 1996, MLSImendapat persetujuan sebagai penjamin emisi efek dan perantara perdagangan efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sekarang menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Setelah 23 tahun beroperasi di Indonesia, MLSI mengumumkan rencana menutup bisnis perdagangan efek dan mencabut status sebagai Anggota Bursa (AB), pada Juli 2019.

Per 11 Juli 2019, MLSI resmi menutup kegiatan jual beli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kemudian Otoritas Jasa Keuangan, melalui Nomor Surat S-167/D.04/2019 pada 14 November 2019, mencabut izin usaha MLSI sebagai Perantara Perdagangan Efek.

Dengan dicabutnya izin usaha ini perusahaan dilarang melakukan kegiatan usaha sebagai Perantara Pedagang Efek, maka PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia hanya dapat menjalankan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek.

Adapun alasan hengkangnya MLSI dari Indonesia karena proses restrukturisasi yang dilakukan induk perusahaan, Merrill Lynch International Inc, setelah resmi diakuisisi Bank of Amerika pada 2011.

Saham perusahaan sekuritas berkode broker ML ini dimiliki mayoritas oleh Merrill Lynch International Inc sebesar 80 persen, dan PT Persada Kian Pastilestari sebesar 20 persen.


2. PT Deutsche Sekuritas Indonesia (DSI)

PT Deutsche Sekuritas Indonesia (DSI) merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Deutsche Bank AG yang berbasis di Jerman. DSI resmi berdiri di Indonesia pada 1990.

Setelah berdiri, DSI mengantongi izin sebagai Penjamin Emisi Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sekarang  Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan izin tersebut, DSI dapat melakukan aktivitas bisnis penjamin emisi untuk penerbitan surat berharga Indonesia dan aksi korporasi.

Pada 9 Desember 2004, DSI mendapatkan Surat Persetujuan Anggota Bursa (SPAB) dari Bursa Efek Indonesia, dengan kode perdagangan DB dan nomor registrasi 239.

Pada Juli 2019, DSI mengajukan rencana pengunduran diri sebagai anggota bursa dan menghentikan kegiatan perdagangan efek.

Setelah 30 tahun berperasi di Indonesia, DSI akhirnya resmi hengkang setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut Surat Persetujuan Anggota Bursa (SPAB) pada 17 April 2020.

Adapun alasan hengkangnya DSI dari Indonesia sejalan dengan langkah restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan oleh Deutsche Bank AG. Bank asal Jerman ini memutuskan untuk menghentikan bisnis trading saham dan memangkas 18.000 karyawannya sampai dengan 2022 karena terus mengalami kerugian menahun dan memutuskan untuk merampingkan bisnisnya dan hanya berfokus untuk fokus melayani perusahaan di Eropa dan nasabah ritel.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham DSI dipegang oleh DB International (Asia) Limited 14 persen, Elisabeth Tanzil 1 persen, dan Deutsche Asia Securities Pte Ltd sebesar 85 persen.

3. PT Nomura Sekuritas Indonesia (NSI)

PT Nomura Sekuritas Indonesia (NSI) adalah Perusahaan efek joint venture yang dimiliki Nomura International yang berbasis Hong Kong. Perusahaan tersebut berdiri di Indonesia pada 11 Desember 1989.

Pada 29 Februari 1992, NSI mengantongi izin perantara pedagang efek dan penjamin emisi efek dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), sekarang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan profil Anggota Bursa di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perusahaan NSI mayoritas dipegang Nomura Asia Pacific Holdings Co Ltd 80,8 persen yang berbasis di Jepang, sisanya dimiliki oleh Nomura International (Hong Kong) 11,4 persen, Nomura Holdings Inc 4,2 persen, PT Jan Darmadi Investindo 3 persen, dan PT Santini Lestari Lokaprima 0,6 persen.

Setelah 30 tahun berdiri di Indonesia, NSI mengajukan pengunduran diri dari Anggota Bursa ke BEI pada Juli 2019. Adapun alasan NSI mundur sebagai broker karena terus mengalami penurunan kinerja alias merugi.

Dilansir dari laporan keuangan perusahaan pada kuartal I-2019, total pemasukan perusahaan anjlok 12,38 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 39,66 miliar dari Rp 45,26 miliar.

Pos pendapatan NSI juga terperosok lebih dalam,  yakni 54,23 persen (YoY) menjadi Rp 5,45 miliar di kuartal I-2019, dari Rp 11,911 miliar di kuartal I-2018.

Lini usaha brokerage NSI juga tumbuh cenderung stagnan, dan pendapatan dari pos underwriter seluruhnya berasal dari transaksi dengan Nomura Singapore Limited (NSL).

Artikel Asli