Ngebet Lompat ke 7%, Jokowi Gereget Realisasi Belanja Lelet: Ini Ada Apa?

Ekonomi | wartaekonomi | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 11:19
Ngebet Lompat ke 7%, Jokowi Gereget Realisasi Belanja Lelet: Ini Ada Apa?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kinerja realisasi belanja kementerian/lembaga dan pemerintah daerah masih sangat rendah. Padahal, kata Jokowi, pemerintah harus menggenjot pertumbuhan pada ekonomi kuartal II yang ditargetkan tumbuh 7%.

"Target di kuartal II kita bukan barang yang mudah, 7% dari -0,74% melompat ke 7%," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (27/5/2021).

Berdasarkan laporan yang ia terima, serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I 2021 masih sebesar 15%. Lebih parah lagi, serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) baru 7%.

Kondisi yang sama terjadi pada serapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dari sekitar Rp700 triliun dana yang disiapkan, baru tersalurkan 24,6%.

Tidak hanya itu, Jokowi juga mengungkapkan kecepatan pengadaan barang dan jasa juga masih lambat. Pada periode yang sama, realiasi kementerian/lembaga masih sebesar 10,98%. Adapun pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah daerah belum menyentuh 5%.

Jokowi pun menginstruksikan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP) serta Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) untuk mengikuti, mengawal, dan mencari penyebab utama lambatnya realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah.

"Saya minta BPKP dan APIP untuk mencari penyebab lambatnya realisasi belanja ini. Ini ada apa? Memberikan solusi, carikan solusinya. Menawarkan jalan keluar untuk mengatasi masalah ini," ucap Jokowi.

Jika hal tersebut dapat dilakukan, Jokowi optimis situasi akan membaik, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah bisa bergerak merealisasikan anggaran dengan cepat dan akuntabel.

"Kalau semuanya bekerja keras, belanja segera dikeluarkan, realisasinya, angka itu (7%) bukan sesuatu yang mustahil untuk diraih. Karena target year on year (yoy) untuk growth /pertumbuhan ekonomi kita kan 4,5-5,5%," pungkasnya.

Artikel Asli