Lahan Tak Produktif Capai 17%

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 08:55
Lahan Tak Produktif Capai 17%

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong optimalisasi program sawit rakyat (PSR). Langkah itu dapat menghadirkan areal tanam baru bagi komoditas pangan lainnya yang dapat ditumpangsarikan dengan kelapa sawit.

Staf Khusus Menteri Pertanian, Imam Mujahidin Fahmid, menyebut Indonesia memiliki luas lahan sawit 16,38 juta hektare (ha) dengan luas lahan sawit rakyat 6,72 juta ha dan potensi peremajaan sawit rakyat 2,78 juta ha yang umurnya sudah sangat tidak produktif atau sekitar 16,97 persen dari total luasan lahan.

"Kita harus pikirkan kira-kira komoditi apa yang bisa ditumpangsarikan dengan kelapa sawit yang membutuhkan waktu produksi jangka pendek, misalnya kedelai, porang, atau kacang-kacangan yang lain yang bisa menghasilkan memberi tambahan pendapatan untuk petani karena petani tidak boleh berhenti pendapatannya. Mereka harus jalan terus," terang Imam, di Jakarta, Kamis (27/5).

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementan, Heru Tri Widarto, menambakan optimalisasi PSR dapat menjadi program untuk meningkatkan berbagai aspek dalam industri kelapa sawit dari hulu sampai hilir. Selain itu, optimalisasi tersebut juga berpeluang mendorong diversifikasi melalui integrasi dan sinergi dengan sektor lainnya.

Lahan kelapa sawit yang diremajakan dapat dikelola dengan sistem tumpang sari selama kurun waktu 3-4 tahun dengan berbagai komoditas tanaman, seperti jagung, kedelai, kacang hijau, porang, jahe, kunyit, dan kencur.

"Di sektor energi khususnya energi baru terbarukan, memanfaatkan batang kelapa sawit yang selama ini terbuang untuk diolah menjadi wood pellet dengan kadar kalori yang lebih tinggi dengan produk serupa dengan bahan baku kayu," tuturnya.

Dorong Perekonomian

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar, berpandangan optimalisasi PSR merupakan program yang dapat membangkitkan perekonomian desa. Selain memajukan komoditas kelapa sawit, program tersebut menyediakan areal tanam baru melalui sistem tumpang sari bagi komoditas pangan lainnya dan limbah batang sawit dapat dijadikan sumber energi baru terbarukan.

"PSR merupakan program untuk membantu pekebun rakyat memperbaharui perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan berkualitas serta mengurangi risiko pembukaan lahan ilegal. Melalui PSR, produktivitas lahan milik pekebun rakyat bisa ditingkatkan tanpa melalui pembukaan lahan baru," jelas Mindo.

Lebih lanjut, Mindo mengatakan optimalisasi PSR dapat memberikan lahan baru bagi komoditas tanaman pangan dan limbah batang sawit dapat diolah menjadi sumber energi baru terbarukan. Artinya, kegiatan ini dapat memulihkan perekonomian di pedesaan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Saya harapkan kita tidak terpaku dengan peluang ekspor. Namun yang harus dipikirkan adalah bagaimana menghasilkan komoditas olahan untuk diekspor, misalnya talas dan porang, jangan sampai umbinya diekspor. Ini sangat berbahaya karena negara luar dapat mengembangkannya untuk dijadikan bibit sehingga ekspor kita hanya berjalan 3 sampai tahun 4 tahun saja," terangnya.

Artikel Asli