Soal RUU Larangan Minuman Beralkohol, Nurul Arifin: Saya Merasa Terlalu Banyak Larangan

Ekonomi | radartegal | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 05:20
Soal RUU Larangan Minuman Beralkohol, Nurul Arifin: Saya Merasa Terlalu Banyak Larangan

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Nurul Arifin menilai peraturan mengenai minuman beralkohol sudah cukup diatur dalam peraturan perundang-undangan yang ada.

Beberapa di antaranya adalah UU 36/2009 tentang Kesehatan, UU 18/2012 tentang Pangan, Peraturan Presiden Nomor 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman beralkohol, serta Permendag Nomor 20 tahun 2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minol.

“Jadi kalau melihat substansi yang ada di RUU ini rasa-rasanya dengan semua peraturan yang ada ini semua sudah cukup. Itu menurut pandangan kami,” kata Nurul saat RDPU Baleg DPR RI dengan jajaran PBNU, Muhammadiyah, dan MUI terkait penyusunan RUU Minol, Kamis (27/5).

Menurutnya, negara harus memberikan edukasi dan kepercayaaan kepada masyarakat terkait aturan tentang minuman beralkohol (minol).

Karena itu, Nurul menganggap, Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Larangan Minuman Beralkohol malah berdampak sebaliknya. Yaitu timbulnya ketidakpercayaan negara terhadap masyarakat, sehingga perlu adanya aturan.

“Negara harus mempercayai warganya, bahwa misalnya ada minuman keras di depan saya, kalau saya tidak suka bir, saya tidak akan minum," bebernya.

Apalagi, papar Nurul, dia tahu itu dilarang agamanya. "Namun, juga kita harus memberikan edukasi sebagai tanggung jawab ke masyarakat. Jangan sampai semua dilarang."

"Akhirnya, menjadi nyolong-nyolong. Bahkan yang ilegal itu akhirnya menjadi milik kelompok tertentu dan diselundupkan jadi mahal,” tambahnya.

Nurul menganalogikan saat ada larangan seks bebas, terjadi penjualan alat kontrasepsi secara diam-diam di masyarakat. “Namun toh dalam perjalanannya, sekarang penjualan alat kontrasepsi itu sudah dijual bebas, ada di minimarket."

"Tapi, itu juga tidak melegalkan seks bebas. Saya juga tidak mau anak saya melakukan seks bebas, apalagi berganti pasangan. Tapi, ini adalah bentuk trust saya kepada anak saya,” tambah Nurul.

Nurul juga meminta agar melihat persoalan kriminalitas dalam pandangan yang objektif. Bahwa tidak semua kriminalitas disebabkan karena pengaruh minuman alkohol.

Ada yang karena faktor ekonomi bahkan karena aktivitas pornografi melalui menonton video di gawai.

“Jadi kalau saya pribadi, jangan minuman keras ini menjadi suatu momok yang menakutkan sehingga kita harus melarang. Jadi saya merasa terlalu banyak larangan,” tandasnya. (khf/zul/fin)

Artikel Asli