Loading...
Loading…
Kena Denda USD2,8 Miliar, Alibaba Tekor Rp23,8 Triliun

Kena Denda USD2,8 Miliar, Alibaba Tekor Rp23,8 Triliun

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 15 Mei 2021 - 08:40

JAKARTA - Alibaba melaporkan kerugian bersih sebesar 7,65 miliar yuan atau setara USD1,17 miliar (sekira Rp23,8 triliun dengan kurs Rp14.000 pet USD) pada kuartal fiskal keempat tahun 2021 yang berakhir pada 31 Maret 20210. Kerugian itu disinyalir disebabkan oleh denda anti-monopoli sebesar USD2,8 miliar yang dikenakan oleh regulator.

Mengutip Global Times, e-commerce besutan Jack Ma tersebut sebetulnya mencatatkan kenaikan pendapatan bisnis sebesar 64% (year on year/yoy) menjadi 187,4 miliar yuan. Hal itu terutama didorong oleh rebound kuat ekonomi China yang menopang konsumsi domestik.

Laporan itu muncul ketika investor pasar mengamati dengan cermat bagaimana raksasa e-commerce itu menavigasi perairan yang belum dipetakan atas denda berat untuk pelanggaran monopoli, serta perombakan bisnis dari cabang keuangannya, Ant Group.

Pada kuartal keempat tahun fiskal 2021, Alibaba mencatatkan rugi bersih pertamanya sejak IPO karena denda anti-trust, yang membuat Alibaba secara mendalam mengkaji hubungan antara pertumbuhan ekonomi internet dan perkembangan sosial, serta tanggung jawab sosialnya sendiri sebagai sebuah perusahaan platform.

Kendati demikian, kata Daniel Zhang Yong, CEO Alibaba Group, Alibaba akan menjadikan sanksi itu sebagai kesempatan untuk sepenuhnya merefleksikan dan menyesuaikan kondisi keuangan setelah hasil kuartalan diumumkan kepada publik.

Analis memperkirakan bahwa pertumbuhan laba Alibaba akan melambat tahun ini di tengah pengetatan pengawasan anti-monopoli, dengan volume transaksi menyusut dan lini bisnis tertentu diperbaiki agar sesuai dengan persyaratan peraturan.

Lini bisnis Alibaba juga melihat ekspansi ke sektor-sektor berkembang lainnya yang melayani ekonomi riil, termasuk komputasi awan dan big data.

Konsumen aktif tahunan untuk ekosistem Alibaba telah mencapai tonggak baru lebih dari 1 miliar, di antaranya konsumen aktif tahunan di pasar ritel China mencapai 811 juta pada 31 Maret 2021, meningkat 32 juta dari 12 bulan sebelumnya.

CFO Alibaba Group Maggie Wu mengatakan bahwa perusahaan mengharapkan untuk menghasilkan pendapatan bisnis lebih dari 930 miliar yuan pada tahun fiskal 2022. Pendapatan Alibaba adalah 717 miliar yuan pada tahun fiskal 2021, naik 41% (yoy).

"Kami berencana untuk menggunakan semua keuntungan tambahan dan modal tambahan pada tahun fiskal 2022 untuk mendukung pedagang kami dan berinvestasi ke lini bisnis baru dan garis depan strategis utama," kata Wu.

"Rekor denda Alibaba sebesar USD2,8 miliar mengikis profitabilitasnya untuk kuartal tersebut, yang merupakan kemunduran bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan bisnisnya yang mengesankan tahun ini," kata Asisten Profesor di Gaoling School of Artificial Intelligence di Renmin University of China, Wang Peng.

Dia menambahkan bahwa perbaikan bisnis Alibaba atas pengaturan eksklusivitas paksa, yang dikenal sebagai "memilih satu dari dua (platform)", juga akan membebani pesanan yang ditempatkan melalui platform dan volume transaksi yang sesuai. Ini juga akan mempengaruhi kepercayaan investor dan kapitalisasi pasar.

Pada bulan April, Alibaba didenda USD2,8 miliar atau setara dengan 4% dari total pendapatan tahun 2019, setelah penyelidikan oleh regulator yang dimulai pada bulan Desember menemukan bahwa raksasa e-commerce telah menyalahgunakan posisi dominan pasarnya selama bertahun-tahun untuk menekan para pesaingnya.

Pengamat industri memperkirakan bahwa fokus strategis Alibaba akan melihat perubahan yang jelas dari ketergantungannya pada fintech dan ritel online. Tetapi ekosistem secara keseluruhan akan tetap utuh.

"Pada 2021, prioritas perusahaan adalah mematuhi peraturan dan mendapatkan izin untuk fintech dan divisi lainnya. Jadi ekspansi bisnis juga bisa melambat," kata Wang. Dia menilai bahwa perusahaan akan lebih banyak berpartisipasi di sektor-sektor yang melibatkan ekonomi riil, seperti mendorong digitalisasi industri jasa.

Dalam beberapa bulan terakhir, regulator keuangan China juga telah memanggil Ant Group, badan keuangan Alibaba, untuk membicarakan praktik bisnis keuangannya yang bermasalah, setelah penangguhan daftar mega ganda di bursa saham Shanghai dan Hong Kong tahun lalu. Raksasa fintech itu diminta merombak bisnisnya untuk mengubah dirinya menjadi perusahaan induk keuangan.

"Ini berarti keuntungan perusahaan dari arbitrase regulasi akan menguap. Tetapi Alibaba perlu secara aktif merangkul pengawasan yang ditingkatkan, yang kondusif untuk pengembangan jangka panjangnya," kata Wang.

Original Source

Topik Menarik

{
{
{
{
{
{