Meski Membaik, Ekonomi Kuartal I Diprediksi Masih Kontraksi

investor.id | Ekonomi | Published at 05/05/2021 09:44
Meski Membaik, Ekonomi Kuartal I Diprediksi Masih Kontraksi

JAKARTA, investor.id – Semua pihak kompak memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi, meskipun tidak lebih dari 1% secara year on year (yoy) atau membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat kontraksi 2,19% (yoy). Namun demikian, pada kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi diprediksi mengalami pembalikan atau rebound hingga mencapai 7,8% (yoy).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2021 besar kemungkinan belum positif yaitu berada di kisaran -0,5% hingga -0,3%. Pertumbuhan ekonomi positif kemungkinan baru dicapai pada kuartal II-2021 yang diperkirakan melonjak dalam kisaran 6,9% sampai dengan 7,8%.

“Sehingga, sepanjang tahun 2021 ini pertumbuhan ekonomi kami perkirakan masih bisa berada di kisaran 4,5% sampai dengan 5,3%,” ucap Airlangga dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily pada Selasa (4/5). Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2021 dan keadaan ketenagakerjaan Indonesia Februari 2021 pada Rabu (5/5) siang ini.

Sedangkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih akan terkontraksi 0,6% - 0,9% (yoy). Dengan ini, perekonomian Indonesia bakal kontraksi empat kuartal secara berturut-turut, dimulai sejak kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32%.

“Kuartal I-2021 diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi sekitar 0,6% - 0,9% (yoy). Kita akan tunggu pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 5 Mei 2021,” kata Suharso dalam acara Peresmian Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Nasional 2021, Selasa (4/5).

Sementara itu, untuk kinerja ekonomi pada kuartal II-2021, Suharso berpendapat sudah akan menunjukkan tren pemulihan atau masuk pada zona positif. Sejalan dengan akselerasi percepatan vaksinasi yang memunculkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Menurut dia, 2022 akan menjadi tahun pertama Indonesia lepas dari tekanan pandemi COVID-19 sehingga merupakan tahun kunci bagi pemantapan pemulihan ekonomi nasional. "Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, tantangan Indonesia tidak saja pemulihan ekonomi nasional, namun juga transformasi ekonomi dalam jangka menengah dan panjang," tegas dia.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti meyakini, sektor industri akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi 2022, sehingga pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8%.

“Dari sisi produksi perlu kita garis bawahi, sektor industri akan menjadi kunci dan motor pertumbuhan tahun 2022 sehingga diharapkan industri manufaktur kita akan bisa tumbuh di kisaran 5,6 sampai 6,3%,” ucap Amalia.

Dari kalangan luar pemerintahan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga memprediksi, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2021 masih tumbuh minus atau kontraksi 0,6% (kisaran -0,8% hingga -0,4%). “Sedangkan estimasi kami untuk pertumbuhan ekonomi (PDB) keseluruhan tahun 2021 berkisar antara 4,4% hingga 4,8%,” ujar ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.

Sedangkan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih akan mengalami kontraksi sekitar 1%. Ini didasarkan pada laju konsumsi masyarakat yang belum pulih optimal, masih minus 2,5% sampai minus 3%, meski sudah ada peningkatan serta pertumbuhan kredit yang masih kontraksi.

 

Potensi dan Risiko

Airlangga menambahkan, terdapat berbagai potensi penguatan mapun risiko pelemahan pada pertumbuhan ekonomi, namun pemerintah akan berupaya mendorong ekonomi sektoral dan spasial melalui penguatan local value chain (LVC) yang berorientasi pada beberapa sektor/komoditi strategis. “Utamanya yakni kelapa sawit, karet, industri kimia, industri aluminium, industri elektronik, dan industri alas kaki,” papar dia

Untuk mewujudkan prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah terus menjalankan program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) yang diharapkan mampu mendorong peningkatan di semua sektor. Realisasi program PEN ini menjadi sangat penting untuk menggerakkan ekonomi di masa pandemi.

Artikel Asli