Indonesia Spices Up the World dan Penciptaan 500.000 UKM Eksportir

investor.id | Ekonomi | Published at 05/05/2021 09:09
Indonesia Spices Up the World dan Penciptaan 500.000 UKM Eksportir

Pada tahun 1983 di California, AS, seorang warga negara Vietnam bernama David Tran menciptakan saus dengan merek Sriracha. Merek ini diambil dari nama kota di Thailand bernama Si Racha. Waktu itu promosi Sriracha sangat minim dan distribusi difokuskan ke daerah yang memiliki banyak warga negara Asia. Melalui promosi dari mulut ke mulut, sekarang produk Sriracha telah diekspor ke 25 negara.

Berdasarkan data SupplyTrack pada 2015, 16% keluarga di Amerika Serikat dengan anggota keluarga di bawah umur 35 tahun, memiliki Sriracha di rumahnya. Sriracha juga berkolaborasi dengan Subway, McDonald, A&W, dan Pizza Hut dengan tetap menggunakan nama brand Sriracha pada produknya. Sehingga penggunaan saus tersebut semakin dominan di berbagai negara.

Itulah salah satu kisah sukses global merek saus yang sempat dibahas oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarinvest) pada saat kick off launching program Indonesia Spices Up the World. Kisah sukses tersebut sangat menginspirasi Pemerintah RI sehingga disusunlah program kerja lintas Kementerian dan Lembaga serta berbagai asosiasi pengusaha dalam rangka mewujudkan aneka spices bermerek Indonesia yang nantinya dapat menembus pasar global.

Di pihak lain Kementerian Koperasi dan UKM bersama Kementerian Perdagangan juga merilis rencana mewujudkan 500.000 eksportir baru sampai tahun 2030. Langkah ini telah mendapatkan restu dari Menkoekuin dan berbagai Kementerian dan Lembaga serta asosiasi pengusaha.

 

Sinergi Program

Melihat kedua program pemerintah tersebut sebenarnya saling terkait dan mendukung sehingga perlu adanya sinergi untuk mencapai kedua tujuan. Program keduanya dapat dikelompokkan menjadi program jangka pendek sampai dengan satu tahun, jangka menengah sampai dengan lima tahun, dan jangka panjang di atas lima tahun.

Dalam jangka setahun ke depan, mewujudkan eksportir baru jelas merupakan kebutuhan karena dengan semakin banyak jumlah eksportir maka pasar produk Indonesia akan semakin luas dan berkualitas global, selain adanya berbagai manfaat lainnya. Namun demikian, tentu akan lebih tepat apabila eksportir baru sekaligus mendukung program Indonesia Spices Up the World.

Di sini sesuai rencana kerja pemerintah, akan ditetapkan lima produk unggulan spices yang segera diperkuat kualitas, merek, skala usaha, dan pemasarannya sehingga dalam setahun ke depan merek Indonesia akan menembus pasaran global.

Sampai saat ini ekspor spices atau rempah-rempah Indonesia sangat besar. Sebagai contoh lima besar ekspor di tahun 2020 adalah ke AS senilai US$ 1.230 juta, Filipina US$ 816 juta, Malaysia US$ 564 juta, Tiongkok US$ 548 juta, dan Belanda US$ 414 juta.

Ditinjau dari jenis rempahnya, maka lima besar ekspor rempah-rempah adalah cengkeh senilai US$ 173 juta, kayu manis US$ 78 juta, pala US$ 75 juta, lada putih US$ 75 juta, dan lada hitam US$ 65 juta.

Jika dilihat komoditas yang diekspor, mayoritas masih berupa bahan mentah, sehingga tidak heran bila justru produsen pembeli bahan mentah tersebut di luar negeri yang memanfaatkannya menjadi produk semacam saus dengan merek mereka sendiri. Sudah saatnya bahan mentah tersebut diproses oleh pengusaha kita sehingga akan mendorong munculnya merek Indonesia yang mendunia.

Melihat kesiapan eksportir bahan mentah tampaknya masih perlu waktu panjang untuk dapat memproses rempah menjadi produk bernilai tambah dan bermerek Indonesia yang dapat menembus pasar global. Dengan demikian, langkah jangka pendek yang realistis dapat ditempuh adalah melalui sinergi eksportir rempah dengan produsen Indonesia yang selama ini telah berhasil menembus pasar global.

Produsen bumbu, herbal, atau saus seperti Indofood, Bambu, Kokita, Jamu Tolak Angin, dan lain-lain mestinya dapat menjadi motor penggerak program Indonesia Spices Up the World. Melalui kerja bersama secara intensif antara Kementerian dan Lembaga serta asosiasi pengusaha, maka persoalan klasik seperti peningkatan skala produksi, peningkatan standar kualitas, standar kemasan, jangkauan pemasaran, sertifikasi produk dan modal pembiayaan akan dapat dituntaskan. Saya yakin bahwa saat ini semua jajaran Kementerian dan Lembaga terkait pasti telah memiliki program kerja untuk mendukung program Indonesia Spices up the World dan penciptaan 500.000 eksportir baru ini.

Selain ekspor secara langsung melalui transaksi dagang konvensional baik berupa LC atau Non-LC, upaya mewujudkan eksportir baru dan produk Indonesia dapat diakselerasi melalui sarana online seperti Alibaba.Com, Tradekey.Com, atau Shopee. Di mana instansi Bea dan Cukai telah memberikan berbagai kemudahan dalam pengenaan bea impor sepanjang barang yang diproduksi ditujukan untuk ekspor.

Dari aspek pembiayaan, pemerintah telah mengalokasikan dana untuk pengembangan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan berbagai skema pembiayaan, antara lain PKE (Penugasan Khusus Ekspor) untuk UKM senilai Rp 500 miliar, PKE untuk mendukung trade finance Rp 500 miliar, dan PKE untuk mendukung ekspor ke kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah senilai Rp 1,6 triliun.

Untuk jangka menengah sampai dengan lima tahun ke depan, kedua program ekspor pemerintah ini akan semakin intensif dan semakin banyak pelaku ekspor tercipta. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, akan semakin banyak pelaku usaha yang dapat diberikan pelatihan ekspor, baik melalui sekolah ekspor yang diprakarsai Kadin, pelatihan ekspor FTA dan Pusat Pengembangan Ekspor Nasional (PPEN) yang dimotori Kemendag, Klinik Ekspor yang dilaksanakan Bea Cukai, serta CPNE (Coaching Program for New Exporter) yang dilaksanakan oleh LPEI. Program tersebut terbukti selama ini berhasil menjadikan UKM naik kelas menjadi eksportir.

Di dalam pelatihan tersebut diajarkan modul A sampai Z, liku-liku ekspor yang diajarkan secara teori dan praktik studi kasus, serta pendampingan. Pada ujung akhir pelatihan peserta UKM yang hendak melakukan ekspor akan dibantu pembiayaannya oleh LPEI sesuai kondisi UKM itu sendiri.

Akhirnya, dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan sampai dengan tahun 2030, harapan terwujudnya 500.000 eksportir baru dan impian Indonesia Spices up the World mestinya bukan sekadar rencana dan keinginan semata, namun telah menjadi siklus yang berkesinambungan.

Berbagai inovasi transaksi ekspor dan juga skema pembiayaan akan semakin berkembang karena didukung sistem digital sehingga pengelolaan risiko ekspor bagi UKM akan semakin baik. Dalam dunia pembiayaan, skema Supply Chain Financing (SCF) atau pembiayaan rantai pemasok akan semakin marak. Karena dengan sistem SCF ini pengusaha besar ekspor selaku pembeli bahan baku dari pemasok, pemasok UKM yang belum dapat melakukan eskpor sendiri secara langsung, dan lembaga pembiayaan akan terlindungi kepentingannya.

 

*) Advisor untuk CEO LPEI

Artikel Asli