Konsumsi Didorong, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2021 Diperkirakan Masih Terkontraksi 0,8 Persen

inewsid | Ekonomi | Published at 05/05/2021 07:48
Konsumsi Didorong, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2021 Diperkirakan Masih Terkontraksi 0,8 Persen

JAKARTA, iNews.id -  Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 diperkirakan masih terkontraksi di kisaran -0,87 persen (year on year /yoy) dari kuartal IV-2020 yang tercatat -2,19 persen yoy, meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong konsumsi bahkan menggeber belanja.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami kontraksi di kisaran -1,0 persen yoy. Kontraksi pada kuartal I-2021 tercatat lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi sebesar -3,61 persen yoy.

Menurut Josua, meski masih mengalami kontraksi, berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mendorong konsumsi, membuat tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 semakin terbatas.

"Semakin terbatasnya kontraksi dipengaruhi oleh percepatan belanja pemerintah pusat terutama belanja bansos, belanja modal dan belanja barang,"kata Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Selasa (5/5/2021).

Dia mengungkapkan, data menunjukan adanya perbaikan dari konsumsi rumah tangga di antaranya penjualan ritel, yang terkontraksi -17,1 persen yoy, membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal 2020  sebesar -19,2 persen yoy.

Dari sisi Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), terlihat bahwa kontraksinya semakin terbatas, di mana pada kuartal I, tercatat IKK terkontrkasi sebesar -17,9 persen yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi pada kuartal keempat 2020, sebesar -23,6 persen yoy.

Sedangkan dari sisi konsumsi barang tahan lama/durable goods, pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -21,1 persen yoy, sedikit membaik bila dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal IV sebesar -41,8 persen yoy.

Josua mengungkapkan, terbatasnya relaksasi juga dipicu kebijakan pemerintah yang melakukan beberapa stimulus, seperti relaksasi PPN perumahan, relakasasi PPnBM kendaraan bermotor yang dikombinasikan dengan pelonggaran kebijakan DP kendaraan bermotor dan kebijakan LTV dari Bank Indonesia.

"Perbaikan penjualan mobil ditopang oleh pertumbuhan di bulan Maret 2021, di mana kebijakan relaksasi PPNBm serta pelonggaran kebijakan makroprudensial BI. Dari sisi penjualan motor, kontraksinya pun menurun bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di mana penjualan motor Januari-Maret 2021 terkontraksi -17,7 persen yoy dibandingkan dengan -49,8 persen yoy pada kuartal IV-2020," kata Josua.

Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal IV-2020 tercatat tumbuh positif sebesar 14,6 persen yoy, meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang masih berkontraksi sebesar -14,8 persen yoy.

Pertumbuhan PMTB/Investasi pada 1Q21 diperkirakan masih mengalami kontraksi di kisaran -2 persen yoy hingga -3 persen yoy, membaik dari kuartal sebelumnya yang tercatat -6,15 persen.

Perbaikan ini dapat terindikasi pertumbuhan konsumsi semen yang terkontraksi -0,2 persen yoy pada Januari Maret  dari kuartal sebelumnya sebesar -13,8 persen yoy.

"Masih kontraksinya konsumsi semen mengindikasikan bahwa investasi bangunan masih terkontraksi dibanding tahun lalu, meskipun kontraksinya tidak sedalam kuartal IV 2020," kata Josua.

Dia memaparkan, investasi non-bangunan juga diperkirakan melambat dibandingkan dengan periode pra-pandemi, terindikasi dari impor barang modal pada kuartal I 2021 terindikasi dari impor barang modal yang sudah tumbuh 11,5 persen yoy.

"Konsumsi pemerintah diperkirakan cenderung tumbuh positif sejalan dengan kenaikan belanja pemerintah pada Jan-Mar’21 sebesar 15,61 persen yoy," ujar Josua.

Sementara  itu, surplus neraca perdagangan pada kuartal 1  yang menurun dibandingkan kuartal sebelumnya mengindikasikan bahwa adanya penurunan net ekspor, yang didorong oleh penguatan impor secara umum. Meskipun demikian, volume permintaan ekspor cenderung meningkat sejalan dengan pemulihan aktivitas perekonomian global. Oleh sebab itu, net ekspor juga diperkirakan tumbuh positif.

"Dengan indikator tersebut-tersebut, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2021 jauh lebih membaik bila dibandingkan dengan kuartal IV-2020, dan memberi sinyal awal pemulihan ekonomi, ditopang oleh investasi dan juga konsumsi rumah tangga meskipun laju tahunan dari dua komponen tersebut masih terkontraksi," tutur Josua.

Artikel Asli