BNI Akselerasi Pertumbuhan Kredit 6-7%

investor.id | Ekonomi | Published at 05/05/2021 02:09
BNI Akselerasi Pertumbuhan Kredit 6-7%

JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) atau BNI terus mengakselerasi kinerja kredit untuk tumbuh 6-7% di tahun 2021, seiring dengan perbaikan pada sejumlah sektor ekonomi. Di samping itu, perseroan juga menargetkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7-9%.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan, kredit BNI masih tumbuh positif 2,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 559,33 triliun di kuartal I-2020. Pertumbuhan itu salah satunya disokong segmen konsumer seperti KPR dan KKB sebesar 8% (yoy). Pertumbuhan pada kredit konsumer menandakan bahwa masyarakat sudah percaya diri untuk mulai menggelontorkan dananya.

"Kami berharap tahun ini akan positif di kisaran 6-7% kreditnya. Kita lihat di semester II-2021 dan sampai sekarang kita yakin karena kebetulan sektor komoditi itu membaik. Selain itu ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok juga membaik. Sejalan dengan hal tersebut ekspektasi pertumbuhan kredit di kisaran 6-7%," kata Royke pada acara buka puasa bersama pimpinan media massa, Selasa (4/5).

Namun Royke mengatakan, masalahnya adalah sehubungan dengan restrukturisasi kredit BNI di tahun lalu yang mencapai Rp 120 triliun. Meski kini telah berkurang menjadi sekitar Rp 90 triliun, pihaknya mesti memastikan sisa portofolio kredit yang direstrukturisasi itu bisa bertahan sampai jangka waktu yang telah ditetapkan.

"Nah kita monitor terus dan pantau secara ketat dan kita juga sudah mulai membangun pencadangan. Pencadangan kita cukup tinggi di tahun lalu karena kita harus dengan hati-hati dari kisaran Rp 90 triliun berpotensi 6-7% menjadi non performing loan (NPL)," terang dia.

Saat ini, kata Royke, NPL BNI relatif terjaga di posisi 4,1% atau lebih baik dibanding dengan akhir tahun lalu sebesar 4,3%. Hal itu dipengaruhi kebijakan perusahaan sebelumnya untuk melakukan cukup pencadangan (CKPN). Pada kuartal I-2021, BNI membentuk CKPN sebesar Rp 4,81 triliun atau naik 127% (yoy). Dengan begitu, rasio kecukupan pencadangan (coverage ratio) dapat menjadi sekitar 200%.

Royke menuturkan, perseroan sudah membidik sejumlah sektor yang diprediksi membaik dan potensial untuk disalurkan kredit. Di sisi lain, segmen ekonomi tertentu seperti pariwisata dan transportasi diperkirakan masih kesulitan untuk pulih. Sektor pariwisata misalnya, sudah berhenti cukup lama dengan ekosistem pendukung seperti rental mobil dan suplai makanan yang mulai beralih bisnis lain.

"Untuk segmen itu bangkit butuh dukungan besar dari pemerintah. Jadi terutama untuk sektor pariwisata dan transportasi. Segmen transportasi menjadi isu tersendiri karena beberapa kali kita melakukan semi lockdown," terang dia.

Di samping itu, BNI turut menargetkan DPK bisa tumbuh lebih agresif dibanding kredit. "Sampai akhir tahun rencananya DPK itu tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan kredit. Kalau kredit tumbuh 6-7%, mungkin DPK tumbuh 7-9%," ujar Rayke.

Sampai kuartal I-2021, BNI tercatat menghimpun dana mencapai Rp 639,0 triliun atau tumbuh 8,1% (yoy). Pertumbuhan dipengaruhi peningkatan giro dan tabungan, masing-masing naik 13,1% (yoy) dan 12,9% (yoy).

Selanjutnya, Royke mengatakan, pertumbuhan DPK itu juga mendorong perusahaan mampu memangkas biaya dana (cost of fund/CoF). "CoF kita relatif turun jauh. Makanya average lending kita sudah relatif cukup rendah, rata-rata sudah single digit," ucap dia.

Akselerasi Digital

Pada kesempatan itu, Royke mengatakan, BNI menyadari agar BNI terus unggul dalam persaingan maka harus terus berinovasi dan melakukan perbaikan. Salah satu inisiatif perbaikan adalah dengan meningkatkan kapabilitas digital. Sehingga dapat terus melayani nasabah dengan baik, Tidak hanya pada segmen ritel dan konsumer, tapi juga pada bisnis banking services seperti UMKM dan korporasi.

Pada segmen ritel dan konsumer, BNI telah memperkuat fitur-fitur pada aplikasi mobile banking. Kini nasabah dapat menikmati fitur digital banking BNI antara lain biometric login, pembukaan rekening baru secara digital dengan face recognition, termasuk billing atau kredit yang lebih terintegrasi. Selain itu, mobile banking perseroan juga bisa melayani kebutuhan investasi seperti obligasi maupun reksa dana, termasuk layanan QRIS di berbagai merchant.

"Fitur-fitur yang lengkap tersebut telah mendorong tingkat penggunaan BNI Banking meningkat mencapai 58% (yoy) dan transaksi mobile banking meningkat 50,4% (yoy). Kemudian, mobile banking BNI mendapat respons baik dari para penggunanya, sehingga rating BNI mobile banking pada android playstore meningkat dari tadinya 3,6 pada Agustus 2020 menjadi 4,9 pada bulan Maret 2021. Berada pada rating tertinggi di antara BUKU IV dan III," papar dia.

Royke mengemukakan, perbaikan dan akselerasi turut dilakukan pada bisnis banking services. Misalnya yang dilakukan pada layanan BNI Direct, suatu fitur total solution cash services. Layanan collection, payment, hingga trade finance bisa dilakukan nasabah melalui aplikasi tanpa perlu datang ke cabang.

"Pada Maret 2021, nilai transaksi BNI Direct itu Rp 968 triliun atau tumbuh 38% (yoy). Jadi transformasi digital BNI itu tidak hanya dikembangkan meningkatkan pelayanan nasabah melainkan membantu perusahaan yang ingin terhubung dengan ekosistem. Melalui BNI API Digital Service, jadi kita bisa tersambung segala ekosistem, baik dengan Bukalapak, Tokopedia, atau segala macam merchant atau perusahaan," jelas dia.

Selanjutnya, kata Royke, BNI juga memiliki layanan Application Programming Interface (API) yang terlengkap. Perusahaan sudah bekerja sama dengan 23 API yang menjangkau seluruh segmen industri bisnis digital, baik UMKM maupun korporasi. Inisiatif transformasi digital itu merupakan salah satu dari tujuh prioritas yang telah dicanangkan.

Dia menilai, adanya pandemi turut menyadarkan BNI terhadap perubahan perilaku konsumen, perubahan skema kompetisi, perubahan di industri perbankan, produk, begitupun pada aspek layanan. Sehingga perusahaan melakukan transformasi melalui tujuh strategi prioritas.

"Ini adalah wujud BNI menghadapi tantangan-tantangan yang ke depan lebih ketat lagi. Sehingga kita bisa memberikan layanan perbankan yang komprehensif, reliable, dan cepat sesuai dengan kebutuhan nasabah yang cepat berkembang," ujar dia.

Royke menambahkan, pendekatan digital juga memberikan dampak positif pada internal BNI karena produktivitas ikut meningkat. Bukan hanya sekadar produk dan fitur, tapi juga terjadi pada perubahan bisnis model sehingga operasional lebih simpel, cepat, dan efisien. 


 

 

Artikel Asli