Mitigasi Perubahan Iklim saat Pandemi Sangat Penting

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 22 April 2021 - 08:47
Mitigasi Perubahan Iklim saat Pandemi Sangat Penting

JAKARTA - Pengendalian lingkungan yang memicu perubahan iklim juga memiliki tantangan lain di masa pandemi Covid-19. Selama pembatasan aktivitas masyarakat dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19, emisi gas buang sempat turun. Namun, ketika mesin perekonomian kembali dihidupkan, emisi akan kembali naik signifikan sehingga kondisi tersebut harus diantisipasi.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/ Bappenas, Medrilzam mengatakan, di masa pandemi memang sempat terjadi penurunan emisi, seiring menurunnya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Meski demikian, lanjutnya, perlu diantisipasi ketika mesin perekonomian kembali dihidupkan dan aktivitas masyarakat kembali normal setelah pandemi.

"Karena itu, kita mulai membicarakan skema net zero emission , ini menjadi tantangan. Masalah ini tidak bisa lagi ditangani seperti biasanya. Terlebih bila melihat gejala di negara lain pada masa pemulihan, emisi naik signifikan harus segera diantisipasi agar tak terjadi lonjakan," kata Medrilzam dalam webinar Earth Day Forum 2020 , Rabu (21/4).

Dia menambahkan pemerintah sudah memiliki fokus terkait masalah lingkungan dan perubaan iklim sebagaimana yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pemerintah telah menyusun prioritas nasional terkait perubahan iklim, lingkungan hidup dan ketahahan nasional yang dalamya ada target pencapaian emisi.

Di sisi lain, katanya, masalah pendanaan menjadi faktor penting untuk melalukan sejumlah upaya mitigasi perubahan iklim. Pembentukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan bertugas memobilisasi dana dalam dan luar negeri untuk membiayai program lingkungan hidup dan berperan besar dalam mencegah deforestasi, mendorong rehabilitasi lahan dan hutan, serta menurunkan emisi.

Perhutanan Sosial

Direktur Eksekutif Konservasi Indonesia (WARSI), Rudi Syaf mengatakan skema perhutanan sosial terbukti mampu mendukung upaya mitigas perubahan iklim dan mencapai target NDC (Nationally Determined Contribution). Hal ini terbukti bisa menjaga hitan sejak 2013-2018 terjadi zero deforestasi, baru pada 2019 turun. Poinnya dengan perhutanan sosial, masyarakat mampu menjaga hutan.

"Adapun saat ini potensi karbon di Bujang Raba yang dapat dipergangkan totalnya mencapai 370 ribu ton. Sampai saat ini yang bisa didapat masyarakt Bujang Raba Rp 2,4 miliar. Ini masih kecil sebab kami masih menampung pembeli individu dengan skema sederhana dan belum skema perdagangan," katanya.

Artikel Asli