Peritel Sebut Subsidi Ongkir Belanja "Online" Tak Tepat Sasaran

Ekonomi | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 22 April 2021 - 08:45
Peritel Sebut Subsidi Ongkir Belanja "Online" Tak Tepat Sasaran

JAKARTA - Pelaku bisnis ritel menilai kebijakan pemberian subsidi untuk ongkos kirim (ongkir) pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Ramadan 2021 tidak akan memberi dampak signifikan pada peritel.

Barang-barang yang dijual secara daring umumnya merupakan produk non FMCG (fast moving consumer goods/ barang konsumen yang cepat laku). Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi ritel yang justru menjual produk FMCG. "Barang online biasanya barang non-FMCG. Kalau yang FMCG pasti mereka (konsumen) akan cari di gerai karena kan harus lihat kedaluarsa dan macam-macamnya," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey dihubungi di Jakarta, Rabu (21/4).

Di sisi lain, Roy mengkritisi kebijakan subsidi ongkir yang dinilai tak tepat sasaran lantaran kebanyakan produk di e-commerce atau yang dijual secara online rata-rata merupakan produk asing yang harganya murah. Dia pun meragukan jumlah produk lokal yang dijual di e-commerce.

"Transaksi online itu banyak produk yang bukan produk Indonesia. Produk asing, yang murah-murah itu produk Tiongkok. Padahal kita mau cinta produk Indonesia dan benci produk asing," katanya.

Selain dipenuhi produk asing, kualitas barang pun tidak bisa dipastikan secara langsung. Padahal, menurut Roy, untuk bisa turut mendorong penjualan daring produk dalam negeri, maka faktor kualitas tidak boleh dilupakan.

Sebelumnya, pemerintah menyiapkan dana 500 miliar rupiah untuk menyubsidi ongkos kirim dari pembelian barang melalui daring (online) pada Harbolnas yang berlangsung pada H-10 atau H-5 menjelang Idul Fitri 1422 Hijriah. Pemberian stimulus ini untuk meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong penjualan daring untuk produk dalam negeri.

Artikel Asli