Pemilihan Busana Tenun yang Digelar Dharma Wanita Dikbud Sultra dan Sanggar Ati Budis Kendari Ricuh

Pemilihan Busana Tenun yang Digelar Dharma Wanita Dikbud Sultra dan Sanggar Ati Budis Kendari Ricuh

Gaya Hidup | BuddyKu | Kamis, 28 September 2023 - 21:21
share

Kendari Pemilihan busana tenun yang diikuti oleh guru dan pelajar se-Sulawesi Tenggara (Sultra) di salah satu hotel di Kota Kendari berlangsung ricuh, Rabu (27/9/2023) malam. Kericuhan terjadi karena sejumlah peserta memprotes kemenangan yang telah diputuskan oleh dewan juri.

Fashion show ini merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 RI yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ( Dikbud ) Sultra menggandeng Sanggar Ati Budis Kendari. Tema yang diangkat adalah Nuansa Merah Putih.

Saat kegiatan berlangsung, para peserta menampilkan pose dan kain tenun masing-masing daerah. Mereka dinilai oleh 3 orang juri dengan berbagai kriteria penilaian di antaranya kesesuaian busana dengan tema, make up dan tata rias, kreativitas, desain busana, wawasan dan sejumlah penilaian lainnya.

Flayer kegiatan pemilihan busana tenun di Kendari.
Flayer kegiatan pemilihan busana tenun di Kendari. Foto: Istimewa. (27/9/2023).

Usai kegiatan, panitia memutuskan 5 peserta terbaik masing-masing 3 siswi perwakilan dari SMAN 4 Kendari, sedangkan 2 siswi lainnya mewakili SMAN 1 Kendari dan SMAN 1 Lawa. Rinciannya, Juara I diperoleh SMAN 4 Kendari, Juara II SMAN 1 Lawa, Juara III SMAN 4 Kendari, juara harapan I SMAN 4 Kendari, dan kostum terbaik diperoleh SMAN 1 Kendari.

Usai diumumkan, sejumlah peserta dan penonton yang ada di hotel itu ricuh dengan penyelenggara kegiatan. Pasalnya, penilaian juri terkesan subyektif dan diskriminatif.

Jurinya berasal dari sekolah yang sama dengan beberapa peserta yang ikut fashion show ini. Pasti akan subjektif apalagi kriteria penilaian sudah tidak sesuai, kesal orang tua salah satu peserta, Fonny Wathung, Kamis (28/9).

Fonny menegaskan, anaknya yang bernama Keyza Novena Idelberth ikut memeriahkan fashion show itu mewakili SMAN 1 Kendari. Prestasi putri tercintanya pun tidak diragukan lagi, sebab sudah beberapa kali menjadi juara mewakili Sultra dalam event-event nasional. Akan tetapi, ia kecewa. Sebab kriteria yang telah ditetapkan dalam technical meeting diabaikan oleh panitia.

Banyak kejanggalan yang kami temukan, anak-anak kami sudah ikuti semua kriteria termasuk kesesuaian tema dan busana yang digunakan. Tetapi yang menang ini justru melenceng dari tema tersebut, ini ada apa, kenapa penilaiannya aneh, kesalnya.

Sementara itu, keluarga salah satu peserta bernama Idul mengaku, ada dugaan permainan dalam fashion show tersebut. Pasalnya, 3 pertanyaan yang telah disiapkan oleh panitia dijawab lancar oleh beberapa peserta.

Juri dan beberapa peserta berasal dari sekolah yang sama. Pantasan ini peserta yang berasal dari sekolah yang sama dengan dewan juri rata-rata lancar menjawab. Kalau dari sekolah lain, susah mereka menjawab, kemungkinan mereka sudah dikasih tahu pertanyaannya lebih dulu, kesalnya.

Secara terpisah, desainer ternama asal Sultra, Amir Malik mengaku menyaksikan langsung kegiatan ini. Tetapi, ia merasa aneh dengan para pemenang yang ditetapkan oleh dewan juri.

Kegiatannya tenun, tapi yang juara ini rata-rata pakaian bukan tenun, hanya motif saja. Inikan giat busana tenun, bukan busana kain Sultra. Ini harus dibedakan, paparnya.

Amir juga menyesalkan kinerja penyelenggara kegiatan, sebab mereka memilih dewan juri yang diduga tidak memahami nilai-nilai budaya tenun asal Sultra.

Saya adalah desainer di Sultra. Saya berusaha mempromosikan budaya tenun Sultra di kancah nasional dan internasional. Makanya saya tahu persis penilaian fashion show seperti ini. Tetapi, yang diselenggarakan kali ini aneh dan berantakan sekali, tegasnya.

Jika panitia tidak paham dengan nilai-nilai budaya Sultra yang terkandung dalam tenun ini, lanjut Amir, sebaiknya penyelenggara jangan membuat kegiatan-kegiatan seperti ini, sebab akan dijadikan untuk gaya-gayaan saja.

Kami capek mempromosikan budaya di Sultra, menguras tenaga dan materi tapi dirusak oleh kegiatan ini. Anak-anak yang juara ini penilaiannya subjektif sekali, tidak sesuai kriteria yang sebenarnya. Ini sama saja kita ajarkan kecurangan sama anak-anak kita, kesalnya.

Tidak hanya itu, Amir mempertanyakan sebuah mahkota yang digunakan oleh seorang penyelenggara. Menurutnya, mahkota dalam fashion show itu adalah lambang berharga dari orang pernah membawa prestasi dalam kegiatan tersebut.

Saya lihat ada ibu-ibu pakai mahkota tanpa selendang, kemudian dikasih pakai sama salah satu peserta. Itu siapa, prestasinya apa, mereka ini paham tidak dengan kegiatan dan simbol-simbol yang ada di fashion show . Kacau ini penyelenggara, tuturnya.

Olehnya itu, ia berharap agar penyelenggara kegiatan fashiow show ke depan lebih cerdas dalam membuat event budaya.

Kita sama-sama perkenalkan budaya. Jangan hanya mengejar juara tapi justru merusak citra budaya Sultra sendiri, pungkasnya.

Topik Menarik