Akun Medsos Putra Donald Trump Kena Hack, Umumkan Kematian sang Ayah dan Pencalonannya sebagai Presiden
BUKAMATA - Akun media sosial milik Donald Trump Jr., putra mantan Presiden Donald Trump, mengalami peretasan yang membuatnya membagikan informasi palsu.
Dalam peretasan tersebut, akun tersebut mengumumkan kematian sang ayah dan menyatakan bahwa Donald Trump Jr. akan mencalonkan diri sebagai presiden.
Dilansir dari CNN, Juru bicara keluarga Trump, Andrew Surabian, langsung memberi tahu publik bahwa akun Donald Trump Jr. telah diretas. Surabian juga menegaskan bahwa kabar tentang kematian mantan presiden adalah "jelas tidak benar."
Selain kabar kematian yang palsu, akun yang terkena peretasan juga mengklaim bahwa Donald Trump Jr. akan mencalonkan diri sebagai presiden. Postingan ini cepat menyebar di media sosial, dengan lebih dari 1.000 kali dibagikan dan dilihat ratusan ribu kali.
Selain itu, ada postingan lain yang tampak mengancam Korea Utara, dan ada juga postingan yang menghina Presiden Joe Biden dengan kata-kata kasar.
Xabi Alonso Dipecat Setelah Real Madrid Kalah 0-2 dari Celta Vigo di Liga Spanyol 2025-2026?
Postingan-postingan ini kemudian dihapus dalam waktu sekitar setengah jam setelah muncul. Pihak X, platform yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, belum memberikan komentar atas insiden ini.
Peretasan ini memunculkan pertanyaan tentang keamanan akun pengguna di X, terutama akun-akun yang dimiliki oleh tokoh politik terkenal, menjelang pemilihan presiden tahun 2024.
Bulan Agustus lalu, X mengumumkan penambahan personel di tim keamanan dan pemilihan setelah melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran tahun sebelumnya, yang mengurangi lebih dari 80% jumlah karyawan perusahaan.
Belum jelas apakah peretasan ini juga mengakibatkan akses tidak sah ke pesan pribadi milik Donald Trump Jr. atau apakah akun tersebut memiliki otentikasi dua faktor yang diaktifkan.
Saat ini, X masih dalam penyelidikan oleh Federal Trade Commission (FTC) terkait kemampuannya untuk melindungi privasi pengguna dan apakah perusahaan tersebut mungkin telah melanggar komitmen yang telah dibuatnya pada tahun 2011 dalam hal keamanan platform tersebut.
Penyelidikan ini dimulai setelah mantan kepala keamanan perusahaan, Peiter "Mudge" Zatko, mengungkapkan sejumlah kerentanan keamanan yang luas yang belum ditangani dengan baik.


