Penilaian CIA Ungkap Israel Mungkin Bakal Runtuh, kok Bisa?

Penilaian CIA Ungkap Israel Mungkin Bakal Runtuh, kok Bisa?

Berita Utama | inews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 05:57
share

WASHINGTON, iNews.id - Israel disebut menghadapi risiko keruntuhan negara hingga perang saudara akibat keretakan politik, ekonomi, dan sosial yang semakin dalam. Penilaian tersebut disebut berasal dari laporan rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang mengungkap sejumlah masalah serius di dalam negeri Israel.

Laporan berjudul “Fracture From Within” atau “Keretakan dari Dalam” itu disebut memperingatkan bahwa berbagai tekanan yang menumpuk dapat mendorong Israel menuju konflik internal hingga state collapse atau keruntuhan negara.

Dokumen tersebut dilaporkan disusun pada Agustus 2026 oleh Red Cell CIA, unit yang memang dibentuk untuk menguji asumsi dan penilaian intelijen yang selama ini berlaku. Drop Site News melaporkan isi dokumen berdasarkan keterangan dua sumber pejabat AS yang mengetahui laporan tersebut.

Namun, CIA sejauh ini belum memberikan komentar ataupun mengonfirmasi keberadaan maupun isi laporan tersebut.

Lantas, mengapa Israel disebut bisa terancam perang saudara bahkan keruntuhan negara?

Salah satu faktor utama yang disoroti adalah perpecahan politik yang semakin tajam, terutama menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober 2026.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan koalisinya menghadapi pertarungan politik yang sangat terfragmentasi. Reuters melaporkan Netanyahu berupaya menyatukan faksi-faksi sayap kanan menjelang pemilu, sementara dukungan terhadap pemerintah menghadapi tekanan akibat ketidakpuasan publik atas perang dan persoalan keamanan.

Situasi tersebut diperburuk oleh perselisihan mengenai kebijakan wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi.

Krisis Wajib Militer Jadi Bom Waktu

Persoalan wajib militer menjadi salah satu titik paling sensitif dalam masyarakat Israel.

Militer Israel sangat bergantung pada pasukan cadangan setelah perang berkepanjangan di Gaza dan konflik dengan kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Di sisi lain, pengecualian atau perlakuan khusus bagi sebagian besar pria ultra-Ortodoks memicu kemarahan kelompok masyarakat yang merasa beban perang tidak dibagi secara adil.

Bank of Israel sebelumnya memperingatkan bahwa persoalan perekrutan pria Haredi bukan hanya masalah militer, tetapi juga memiliki dampak ekonomi besar. Bank sentral itu memperkirakan satu bulan tugas seorang prajurit cadangan berusia sekitar 30 tahun menimbulkan biaya ekonomi sekitar 38.000 shekel. Perluasan perekrutan Haredi dinilai dapat mengurangi beban ekonomi akibat tingginya ketergantungan terhadap pasukan cadangan.

Perselisihan tersebut bahkan sebelumnya ikut mengguncang pemerintahan Netanyahu. Partai-partai ultra-Ortodoks menjadi komponen penting koalisi pemerintah, sementara isu pengecualian wajib militer berulang kali memicu konflik politik.

Perang Panjang Mulai Menggerogoti dari Dalam

Laporan CIA yang diberitakan tersebut juga menyoroti dampak perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Para tentara Israel yang menjalani penugasan berulang menghadapi tekanan berat setelah berada dalam konflik dalam waktu panjang. Menurut laporan tersebut, sebagian tentara yang kembali dari medan perang mengalami trauma psikologis serius.

Tekanan tersebut bertemu dengan persoalan sosial dan politik yang sudah ada sebelumnya. Akibatnya, perang tidak hanya menjadi persoalan keamanan eksternal, tetapi juga memperdalam perpecahan di dalam masyarakat Israel.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya kekerasan yang dilakukan warga dan tentara Israel di Tepi Barat sebagai salah satu sumber ketegangan internal.

Ekonomi dan Pengeluaran Militer Ikut Disorot

Masalah lain yang menjadi perhatian adalah tekanan ekonomi akibat konflik berkepanjangan.

Pengeluaran militer Israel meningkat tajam seiring perang yang meluas. Pada saat yang sama, pemerintah harus menghadapi konsekuensi ekonomi dari pengerahan pasukan cadangan dalam jumlah besar dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi.

Bank of Israel telah mengaitkan tingginya penggunaan pasukan cadangan dengan biaya ekonomi yang signifikan. Setiap perluasan mobilisasi juga berarti semakin banyak pekerja meninggalkan pekerjaan mereka untuk bertugas di militer.

Dengan kondisi tersebut, perang berkepanjangan berpotensi menciptakan lingkaran tekanan: kebutuhan keamanan mendorong pengeluaran militer dan mobilisasi, sementara mobilisasi dan perang menambah beban ekonomi serta sosial.

Netanyahu Disebut Menambah Ketegangan Politik

Laporan CIA yang diberitakan Drop Site News juga secara khusus menyoroti ambisi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan.

Menurut laporan tersebut, perjuangan politik untuk mempertahankan pemerintahan dapat memperbesar ketegangan politik dan konstitusional di Israel.

Kondisi menjelang pemilu semakin memperlihatkan tajamnya perpecahan tersebut. The Guardian melaporkan bahwa masyarakat Israel menghadapi ketidakpastian politik tinggi menjelang pemungutan suara, dengan kepercayaan terhadap sejumlah institusi negara menurun dan persoalan biaya hidup ikut menjadi sumber keresahan.

Pemilu 27 Oktober juga menjadi pemilu pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang panjang yang mengikutinya. Reuters melaporkan pemilu tersebut berlangsung di tengah kontroversi mengenai keamanan, perang, serta perselisihan antara kelompok-kelompok politik Israel.

Dukungan AS Juga Mulai Disorot

Faktor lain yang disebut dalam laporan adalah meningkatnya isolasi internasional Israel, termasuk kekhawatiran mengenai terkikisnya dukungan dari Amerika Serikat.

Hubungan Israel-AS selama ini menjadi salah satu pilar strategis utama Israel. Karena itu, setiap perubahan dukungan politik maupun militer Washington dapat memiliki dampak besar terhadap perhitungan keamanan dan politik di Israel.

Perdebatan mengenai dukungan AS juga semakin terlihat di Washington. Pada akhir September, Senat AS bahkan melakukan pemungutan suara atas resolusi yang meminta laporan mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat. Resolusi itu gagal disahkan dengan suara 47-51, tetapi perdebatan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan politik di AS mengenai kebijakan Israel.

Meski demikian, laporan tersebut tidak berarti CIA memprediksi Israel pasti akan runtuh atau perang saudara pasti pecah.

Penilaian Red Cell justru dibuat untuk menguji skenario dan risiko yang mungkin luput dari analisis utama. Dalam kasus ini, laporan tersebut memperingatkan bahwa berbagai keretakan yang terjadi secara bersamaan dapat menciptakan kondisi yang jauh lebih berbahaya jika tidak ditangani.

Dengan kata lain, ancaman yang digambarkan bukan berasal dari satu musuh eksternal, melainkan dari akumulasi persoalan di dalam negeri: perpecahan politik, krisis wajib militer, beban ekonomi, perang berkepanjangan, kekerasan di Tepi Barat, konflik konstitusional, dan meningkatnya isolasi internasional.

Menjelang pemilu 27 Oktober, kondisi tersebut membuat stabilitas internal Israel menjadi sorotan. Bagi penilaian yang disebut berasal dari CIA itu, persoalannya bukan apakah satu konflik tertentu dapat menjatuhkan Israel, melainkan apakah berbagai keretakan tersebut pada akhirnya dapat bertemu dan menciptakan krisis yang lebih besar.

Topik Menarik