2 Negara Bagian Jerman Gelar Pemilu, Posisi Kanselir Friedrich Merz Jadi Sorotan

2 Negara Bagian Jerman Gelar Pemilu, Posisi Kanselir Friedrich Merz Jadi Sorotan

Berita Utama | inews | Minggu, 20 September 2026 - 17:42
share

BERLIN, iNews.id - Pemilu negara bagian digelar di Berlin dan Mecklenburg-Vorpommern, Jerman, Minggu (20/9/2026). Hasilnya berpotensi meningkatkan tekanan politik terhadap Kanselir Friedrich Merz.

Jajak pendapat menjelang pemungutan suara menunjukkan partai Merz, Christian Democratic Union (CDU), menghadapi risiko kehilangan dukungan di kedua negara bagian tersebut. Kondisi ini dapat memunculkan kembali pertanyaan mengenai masa depan politik Merz.

Melansir BBC, pemilu tersebut berlangsung sekitar dua pekan setelah partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) meraih kemenangan besar di Saxony-Anhalt. Saat itu, perolehan suara CDU turun tajam.

Tekanan terhadap Merz meningkat setelah CDU juga mencatat hasil yang buruk dalam sejumlah pemilihan daerah. Meski demikian, Merz telah menyatakan akan menjalankan masa jabatan empat tahunnya dan menolak mengaitkan masa depannya dengan hasil pemilu negara bagian.

Di Berlin, CDU menghadapi persaingan ketat dengan Partai Kiri atau Die Linke untuk menjadi kekuatan politik teratas. Pemilu ini juga menjadi ujian bagi koalisi CDU-SPD yang saat ini memimpin pemerintahan ibu kota Jerman.

Sementara itu, di Mecklenburg-Vorpommern, posisi CDU bahkan terancam lebih serius. Dalam jajak pendapat ARD yang dilakukan 7-9 September terhadap 1.556 pemilih, CDU hanya memperoleh dukungan 7 persen, sedikit di atas ambang 5 persen untuk masuk parlemen negara bagian.

Hasil tersebut akan menjadi salah satu yang terburuk bagi CDU di negara bagian tersebut jika terealisasi. Namun, jajak pendapat bukanlah prediksi hasil pemilu dan masih dapat berubah hingga pemungutan suara selesai.

Situasi tersebut menjadi persoalan bagi Merz karena AfD, partai yang ingin ditekan pengaruhnya oleh CDU, justru terus memperoleh dukungan.

AfD memiliki basis kuat di sejumlah wilayah bekas Jerman Timur. Partai tersebut mengusung agenda anti-imigrasi dan pendekatan yang lebih ramah terhadap Rusia, sementara cabang tertentu AfD dikategorikan sebagai ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen domestik Jerman. AfD dengan tegas menolak klasifikasi tersebut.

Di Mecklenburg-Vorpommern, AfD berharap dapat mengulangi kemenangan besar yang diraihnya di Saxony-Anhalt. Jajak pendapat ARD sebelum pemilu menunjukkan AfD memperoleh dukungan 38 persen, unggul lima poin persentase atas SPD yang berada di 33 persen.

SPD masih berusaha mengejar melalui kandidat utamanya, Manuela Schwesig. Dia merupakan perdana menteri negara bagian tersebut dan berusaha menarik pemilih yang menolak AfD dengan slogan kampanye "Die Frau gegen Blau" atau "Perempuan Melawan Biru", merujuk pada warna AfD.

Popularitas Schwesig di tingkat negara bagian berbeda dengan kondisi SPD secara nasional. Partai tersebut saat ini menjadi mitra koalisi CDU dalam pemerintahan federal yang dipimpin Merz.

Dalam survei ARD, Schwesig juga memperoleh penilaian personal yang relatif tinggi. Sebanyak 59 persen responden mengatakan akan memilih Schwesig jika pemilihan perdana menteri negara bagian dilakukan secara langsung, sedangkan 28 persen memilih kandidat AfD Leif-Erik Holm.

Hanya sekitar 16 bulan setelah berkuasa, Merz menghadapi pertanyaan mengenai mengapa popularitas CDU terus menurun, sementara AfD semakin kuat.

Pendukung Merz berpendapat pemerintahannya menghadapi situasi global yang sulit dan sebagian persoalan yang dihadapi Jerman merupakan warisan pemerintahan sebelumnya.

Namun, dukungan terhadap kemampuan Merz untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut disebut mulai berkurang. Reuters melaporkan tingkat kepuasan terhadap Merz telah turun tajam, sementara persoalan biaya hidup, pensiun, kesehatan, dan harga energi turut membebani pemerintahannya.

Merz juga menghadapi kritik atas kebijakan yang lebih tegas mengenai imigrasi. Langkah tersebut belum mengurangi dukungan terhadap AfD, sementara pada saat yang sama dapat menjauhkan sebagian pemilih di sisi kiri politik.

Gaya komunikasi Merz juga menuai kritik. Salah satu yang menjadi sorotan adalah komentarnya mengenai keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, ketika dia mengatakan masyarakat Jerman perlu bekerja lebih banyak dan mengurangi cuti sakit.

Meski spekulasi mengenai kemungkinan pergantian kanselir kembali muncul, para petinggi CDU masih memberikan dukungan kepada Merz. Pergantian kanselir di tengah masa jabatan juga memiliki persoalan konstitusional yang kompleks.

Topik Menarik