Menkop Dorong Benteng Van Der Wijck Kebumen Jadi Pusat Budaya dan Pariwisata

Menkop Dorong Benteng Van Der Wijck Kebumen Jadi Pusat Budaya dan Pariwisata

Berita Utama | sindonews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:13
share

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantoro mendorong revitalisasi Benteng Van Der Wijck di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah agar tidak hanya menjadi destinasi wisata. Namun juga berkembang sebagai pusat kegiatan budaya, pariwisata, dan pendidikan.

Hal itu disampaikan Ferry saat membuka Kebumen Travel Mart (KTM) 2026 dan Gombong Culture Festival yang digelar di Benteng Van Der Wijck, pada Kamis (27/8/2026). Menkop mengaku terkesan setelah melihat langsung kondisi benteng peninggalan kolonial Belanda tersebut. Struktur bangunan Benteng Van Der Wijck masih sangat kokoh dan memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Baca juga: 5 Destinasi Anti-mainstream di Nusantara Ini Bikin Liburan Tetap Seru

“Saya baru tahu betapa luar biasanya Benteng Van Der Wijck ini. Dari sisi struktur bangunan, benteng ini masih kokoh sekali. Tinggal kita sedikit merevitalisasi semua nilai dan fungsinya,” ujar Ferry.

Ferry bahkan berencana mengajak Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk datang langsung ke Benteng Van Der Wijck. Ia berharap benteng tersebut dapat dikembangkan sebagai pusat kegiatan budaya, pariwisata, dan pendidikan.

Pengembangan tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat Kebumen. Meningkatnya kunjungan wisatawan dari dalam maupun luar negeri diyakini dapat menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca juga: Benteng Van der Wijck dan Upaya Meredam Pemberontakan Diponegoro

“Kalau semua ini berjalan, multipengaruhnya akan berdampak pada kemajuan ekonomi, sebab UMKM bergerak dengan datangnya wisatawan dari nusantara dan mancanegara,” katanya.

Ferry membandingkan Benteng Van Der Wijck dengan sebuah gedung di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang menjadi lokasi Kongres Koperasi Pertama Indonesia pada 11-14 Juli 1947. Ia mengaku bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebelumnya datang ke gedung tersebut untuk memperingati Kongres Koperasi Pertama sekaligus menetapkannya sebagai warisan budaya yang dilindungi.Menurut Ferry, kondisi bangunan Benteng Van Der Wijck bahkan dinilai lebih baik dari sisi bangunan sipil. “Dibandingkan gedung tempat Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya, Benteng Van Der Wijck jauh lebih baik dari sisi bangunan sipil. Jadi Menteri Fadli Zon memang harus ke sini,” ujarnya.

Koperasi Pertama di Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Ferry juga menyinggung sejarah Kebumen dalam perkembangan koperasi di Indonesia. Ia menyebut koperasi pertama lahir di Kebumen pada 16 Desember 1886. Koperasi tersebut didirikan Raden Aria Wiraatmadja dan saat itu berbentuk bank simpan pinjam yang bertujuan membantu pegawai negeri dan kaum priyayi pribumi terbebas dari jeratan bunga tinggi rentenir.

Berangkat dari sejarah tersebut, Ferry mendorong organisasi Induk Warga Asal Kabupaten Kebumen (IWAKK) Walet Emas untuk membentuk koperasi. Koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi wadah yang membantu pelaku UMKM berkembang hingga mampu menembus pasar ekspor.

Ketua Panitia KTM dan Gombong Culture Festival 2026, Wahid Supriyadi mengatakan, penyelenggaraan kegiatan tersebut berawal dari keinginan untuk mengembangkan potensi daerah sekaligus memperkenalkan Kebumen kepada masyarakat Indonesia dan dunia.

Wahid yang merupakan warga asli Kebumen dan diplomat senior tersebut mengaku mendapat inspirasi dari pengalamannya menggelar berbagai festival Indonesia di luar negeri. “Setelah bertahun-tahun menggelar festival di luar negeri, saatnya saya ingin membangun daerah saya, Kebumen berkembang dan dikenal baik oleh kalangan nusantara maupun mancanegara dengan acara seperti KTM dan Gombong Culture Festival ini. Jadi saya turun gunung,” kata Wahid.

Ia menjelaskan, gagasan awal festival berasal dari Rike Sumangkut, pegiat event organizer di bidang pariwisata. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi dan riset mengenai berbagai potensi Kebumen. Dalam prosesnya, panitia juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk BUMN dan sektor swasta.Ke depan, Wahid mengusulkan adanya kegiatan tahunan bagi warga Kebumen yang berada di perantauan dengan konsep “Pulang Kampung”. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai budaya, pariwisata, UMKM hingga peluang ekspor. Konsep itu juga diharapkan dapat menggantikan dua kegiatan besar IWAKK yang selama ini digelar di Jakarta.

“Pulang Kampung nantinya menjadi ajang pertukaran ide, budaya, pariwisata, dan ekonomi, baik UMKM maupun ekspor. Tujuannya membangun Kebumen,” ujarnya.

Pemkab Kebumen Siap Berkolaborasi

Bupati Kebumen Lilis Suryani mengapresiasi penyelenggaraan KTM dan Gombong Culture Festival 2026 yang membawa nama Gombong dan Kebumen. Menurutnya, peran organisasi IWAKK dalam menghubungkan warga Kebumen di perantauan dengan daerah asal sangat penting.

Lilis berharap kegiatan tersebut mampu membuka akses lebih luas bagi perkembangan sektor pariwisata, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan di Kebumen.

“Jejaring bapak-ibu yang sangat luar biasa hingga mampu melaksanakan acara ini membuktikan kecintaan yang tinggi pada daerah kelahiran yakni Kebumen. Karena itu Pemkab Kebumen akan membuka dan mendukung kolaborasi sinergis demi kemajuan masyarakat Kebumen,” ujar Lilis.

TNI Buka Ruang Revitalisasi Benteng

Dukungan terhadap pengembangan Benteng Van Der Wijck juga disampaikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Akhiruddin Darodjat. Ia mengapresiasi pelaksanaan KTM dan Gombong Culture Festival yang menggunakan kawasan benteng yang saat ini dikelola TNI. Akhiruddin mengatakan, pihaknya terbuka terhadap kolaborasi untuk merevitalisasi benteng peninggalan kolonial Belanda tersebut dengan tetap memperhatikan kaidah dan prinsip kesejarahannya.

Menurutnya, Benteng Van Der Wijck merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Kebumen karena memiliki bentuk segi delapan dan kondisi bangunan yang masih kokoh.

“Ini kebanggaan warga Kebumen memiliki benteng segi delapan yang masih kokoh. Karena itu kami membuka ruang yang lebar untuk kolaborasi guna lebih meningkatkan peran dan manfaat benteng bagi kesejahteraan rakyat, terutama generasi muda,” ujar Akhiruddin.

Dengan dukungan pemerintah pusat, Pemkab Kebumen, TNI, pelaku usaha, serta masyarakat perantauan, Benteng Van Der Wijck diharapkan tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi penggerak baru pariwisata, budaya, dan ekonomi masyarakat Kebumen.

Topik Menarik