Harta Karun Venezuela Diangkut, AS Mulai Kehabisan Stok BBM?

Harta Karun Venezuela Diangkut, AS Mulai Kehabisan Stok BBM?

Berita Utama | sindonews | Selasa, 14 April 2026 - 08:17
share

Krisis energi mengguncang global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, namun sebuah pemandangan kontras terlihat di Sound Mississippi. Kapal tanker raksasa Minerva Gloria sepanjang 250 meter bersandar di dermaga, membawa 'harta karun' yang enam bulan lalu mustahil bisa masuk ke Amerika Serikat (AS).

Kargo berharga tersebut adalah 400.000 barel minyak mentah Venezuela. Langkah ini menandai babak baru kedaulatan energi AS setelah penangkapan Nicholas Maduro pada Januari lalu. Kini di bawah kendali transisi yang didukung AS, keran minyak negara pemilik cadangan terbesar di dunia itu kembali terbuka lebar.

Strategi Cerdik Chevron di Tengah Perang

Raksasa migas Chevron menjadi pemain utama dalam kembalinya minyak Venezuela ke pasar AS. Kilang Chevron di Pascagoula, Mississippi dirancang khusus untuk mengolah jenis minyak "berat" (heavy oil) yang berasal dari Venezuela.

"Ini adalah hal besar, bukan hanya untuk Chevron tetapi bagi seluruh wilayah Teluk," ujar Tim Potter, Direktur Kilang Chevron Pascagoula.

Baca Juga: Lewati Selat Hormuz Wajib Bayar Iran Pakai Bitcoin, Bagaimana Nasib Kapal Tanker RI?

Chevron saat ini mengimpor rata-rata 250.000 barel per hari dan berencana menaikkan volume hingga 400.000 barel per hari. Minyak mentah Venezuela relatif murah untuk dibeli karena jauh lebih sulit diproses.

Minyak ini sangat berat, kental, gelap, dan tinggi kadar sulfur, sering disebut minyak asam. Minyak ini digunakan untuk membuat diesel, bensin (petrol), bahan bakar jet, dan produk lainnya.

Minyak Melimpah, Tapi Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal?

Meski pasokan dari Venezuela melonjak dan produksi domestik AS mencapai rekor tertinggi, warga Amerika seperti David McQueen, seorang veteran Vietnam, masih mengeluh. "Harganya harus turun, karena keuangan saya ikut terpuruk bersamanya," keluh David saat mengisi bensin yang kini hampir USD1 lebih mahal dibanding sebelum perang Iran pecah.

Ketika ditanya mengapa dia masih membayar begitu mahal untuk mengisi bensin meskipun dikelilingi oleh cadangan minyak besar AS, McQueen percaya pemerintah menahan minyak itu "untuk mempertahankan harga tetap tinggi." Dia menambahkan: "Kita punya banyak bensin."

Baca Juga: AS Ancam Blokir Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Diramal Tembus USD150 per Barel

Di pompa sebelahnya, Donna mengisi tangkinya dengan bahan bakar seharga USD30. "Saya mengemudi lebih sedikit dan menghabiskan lebih sedikit untuk hal-hal lain." Cucu-cucunya tinggal beberapa jam jauhnya, tetapi dia jarang bertemu mereka karena biayanya terlalu mahal. "Kamu harus melakukan apa yang bisa kamu lakukan."

Walaupun AS memiliki cadangan melimpah dan suplai baru dari Venezuela, harga bensin tetap tunduk pada hukum pasar global. Meskipun minyak didapat secara lokal dari Venezuela, harganya tetap dipatok berdasarkan indeks pasar dunia yang sedang melonjak akibat konflik di Timur Tengah.

Blokade Iran di Selat Hormuz menyebabkan kekosongan pasokan global, yang memaksa harga minyak mentah dunia merangkak naik, menyeret harga domestik AS ikut serta. Minyak Venezuela bersifat "sour" (tinggi sulfur) dan sangat kental, sehingga membutuhkan proses pemurnian yang lebih kompleks menjadi solar, bensin, dan bahan bakar jet.

Sementara itu Presiden Donald Trump dalam pidatonya menegaskan bahwa AS tidak lagi membutuhkan minyak dari Timur Tengah. "Kita tidak butuh Selat Hormuz. Kita punya jutaan barel dari Venezuela," tegasnya.

Pihak Chevron meyakini bahwa keuntungan dari minyak Venezuela saat ini memang masih ditutupi oleh tingginya harga akibat perang Iran. Namun mereka menjanjikan masa depan yang lebih cerah bagi konsumen.

"Ketika kondisi kembali normal, tambahan pasokan dari Venezuela akan langsung diterjemahkan menjadi harga bensin yang lebih murah bagi warga Amerika. Itu akan terjadi di masa depan, meski dampaknya belum terasa sekarang," pungkas Andy Walz, Presiden Downstream Chevron.

Topik Menarik