Tol Tangerang-Merak KM50 Kerap Banjir, Sungai Cidurian Siap Dibangun Tanggul Permanen
IDXChannel - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang kerap melanda ruas Jalan Tol Tangerang-Merak KM50. Strateginya dengan membuat tanggul permanen di Sungai Cidurian sebagai upaya pengendalian banjir.
Kementerian PU lewat Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWS C3) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Marga Mandalasakti sebelumnya telah melakukan penanganan sementara pascabanjir yang menggenangi ruas Jalan Tol Tangerang–Merak KM 50. Namun, solusi jangka panjang tetap diperlukan di mana Kementerian PU tengah menyiapkan desain tanggul permanen di Sungai Cidurian.
Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan, keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menghadapi bencana hidrometeorologi.
“Kementerian PU berkomitmen untuk terus memberikan dukungan infrastruktur pengendalian banjir, baik melalui langkah darurat maupun penanganan jangka panjang, agar risiko dapat diminimalkan,” ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu (11/2/2026).
Penanganan darurat di Jalan Tol Tangerang–Merak KM 50 dilakukan dengan membangun tanggul sementara sepanjang kurang lebih 300 meter di sisi jalan tol. Konstruksi ini menggunakan kombinasi geobag dan Movable Concrete Barrier(MCB) yang berfungsi menahan limpasan air agar tidak kembali menggenangi badan jalan.
Berkat langkah cepat ini, kondisi ruas tol telah pulih sepenuhnya dan kini dapat dilalui dengan aman oleh seluruh golongan kendaraan, memastikan kelancaran mobilisasi barang dan penumpang.
Selain fokus pada pemulihan konektivitas tol, BBWS C3 juga melakukan penanganan darurat di sejumlah titik di Banten yang terdampak banjir dan longsor akibat tingginya debit Sungai Cidurian.
Di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Kementerian PU mengerahkan 2 unit mobile pump berkapasitas 250 liter/detik. Pompa ini difungsikan untuk menyedot genangan di area Pondok Pesantren Sabulussalam guna memastikan aktivitas belajar mengajar para santri dapat kembali berjalan normal. Prasarana mobile pump ini tetap disiagakan di lokasi sebagai langkah antisipasi mengingat debit air sungai masih relatif tinggi.
Sementara itu, longsor sepanjang 200 meter juga terjadi di Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, dan mengakibatkan runtuhnya 8 rumah warga. Merespons hal tersebut, BBWS C3 melakukan perkuatan tebing sungai menggunakan metode pemasangan bronjong.
Bronjong yang digunakan berupa anyaman kawat berlapis galvanis berisi batu. Struktur ini berfungsi menahan arus sungai, mengurangi tekanan tanah, serta mencegah longsor susulan tanpa menghambat aliran air, sehingga kerusakan permukiman tidak meluas.
Kepala BBWS Cidanau–Ciujung–Cidurian, Dedi Yudha Lesmana memastikan, seluruh sumber daya, baik peralatan maupun material kebencanaan, dalam kondisi siap pakai untuk mendukung penanganan di lapangan.
“Peralatan dan material kebencanaan milik BBWS C3 sudah siap digunakan. Namun, kami tetap memperhatikan kondisi lapangan, terutama akses menuju lokasi, sebelum menentukan metode penanganan yang paling tepat,” kata Dedi.
Sebagai langkah pengendalian banjir yang lebih komprehensif di masa depan, BBWS C3 telah menyiapkan desain penanganan jangka panjang untuk Sungai Cidurian. Rencana ini meliputi perkuatan tanggul permanen dengan pemasangan parapet (dinding penahan air) serta pembangunan pintu air.
Dalam pelaksanaannya, BBWS C3 terus berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan instansi terkait. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan seluruh langkah penanganan berjalan efektif, sehingga aktivitas masyarakat dan konektivitas wilayah dapat segera pulih secara berkelanjutan.
(Rahmat Fiansyah)









