Curhat Korban Banjir Agam Tinggal di Pengungsian, Inginkan Relokasi hingga Rumah Sementara

Curhat Korban Banjir Agam Tinggal di Pengungsian, Inginkan Relokasi hingga Rumah Sementara

Berita Utama | inews | Jum'at, 5 Desember 2025 - 14:24
share

AGAM, iNews.id - Neng Hartati (48) korban terdampak banjir asal Nagari Salareh Aia, Kabupaten Palembayan, Agam, Sumatera Barat merasa cukup dengan logistik yang tak henti-hentinya mengalir ke tempat pengungsian. Kini, Neng dan puluhan pengungsi lain di pos pengungsian membutuh rumah sementara untuk tinggal.

Neng mengaku seminggu di posko pengungsian, dia harus berdesakan dengan pengungsi lain.

"Inginnya dibikinkan rumah sementara dulu. Kalau bisa direlokasi ke tempat yang aman. Di posko ini banyak orang, ada anak-anak, Bapak-Bapak. Kami berharap Bapak Presiden (Prabowo Subianto) bisa membantu," kata Neng di lokasi pengungsian, Kamis (4/12/2025).

Selain itu, Neng yang rumahnya rusak terhantam banjir juga kesulitan mengakses air bersih.

"Sumur bor hanya ada di rumah sebagian tetangga. Kami menumpang saja," katanya.

Neng Hartati merupakan satu dari ratusan warga yang rumahnya terdampak banjir di Palembaya, Kamis (27/11/2025). Dia bercerita, sore itu sekitar pukul 17.00 WIB, air deras tiba-tiba mendekat dari arah belakang permukiman rumah warga.

Dalam hitungan detik, perempuan yang lahir dan besar di Nagari Salareh Aia itu harus berlari menuju tempat berlindung, sekitar empat rumah dari kediamannya.

"Airnya besar sekali, gemuk. Kami sudah jatuh-jatuh semua. Cuma bisa berlindung di belakang dapur rumah orang,” kata Neng.

Arus air terus membesar. Warga yang tengah berupaya menyelamatkan diri tak sanggup lagi bergerak jauh. Mereka akhirnya berpegangan pada dinding dapur dan menunggu air mereda. Namun, hujan kembali turun, air kembali pasang. Neng bersama sembilan orang lainnya terpaksa naik ke loteng rumah warga dan berdiam di sana hingga pukul 20.00 WIB.

"Kami terdampar 10 orang. Gelap, air di bawah masih deras, lampu mati. Cuma senter saja yang dipakai,” ujarnya.

Dalam keadaan mencekam itu, anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun terpisah darinya. Anak itu terseret arus bersama empat temannya. Neng sempat berusaha mengejar, namun terhalang kayu-kayu besar yang dibawa aliran banjir.

"Alhamdulillah, kelimanya selamat. Saya baru ketemu anak saya pukul 22:00 WIB di posko," ucapnya.

Setelah air surut, warga menunggu bantuan datang. Keluarga dari Pasaman kemudian tiba dan membantu mereka berjalan keluar melalui lumpur hingga mencapai jembatan dan lokasi aman lainnya.

Neng baru menengok rumahnya pada Rabu (3/12) atau enam hari setelah kejadian. Sebagian rumahnya sudah tertimbun lumpur, termasuk dua mobil yang terparkir di dalamnya.

"Hati saya hancur. Rumah sudah tertimbun lumpur. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan," katanya.

Di posko, dia sudah tinggal selama satu minggu. Rasa trauma masih membekas. Suaminya yang bekerja di pabrik sawit mendapat izin khusus untuk mengurus keluarga setelah rumah mereka dinyatakan rusak total.

Neng mengaku sudah tidak bisa lagi tinggal di rumahnya saat ini walaupun nantinya bisa diperbaiki karena masih trauma.