Waspada! Anemia Pada Anak Bisa Hambat Tumbuh Kembang
ABOUTSEMARANG Kasus stunting yang terjadi di Indonesia saat ini cukup tinggi meski tercatat ada penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menilik data dari Kementerian Kesehatan dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang disampaikan pada saat Rapat Kerja Nasional BKKBN, Rabu (25/1/2023) lalu, terjadi penurunan prevalensi stunting di Indonesia.
Berdasarkan data tersebut kasus stunting di Indonesia dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022.
Untuk diketahui, stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dijelaskan sebagai kondisi anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3.00 SD (severely stunted).
Secara sederhana stunting dapat didefinisikan sebagai gangguan pertumbuhan yang dialami oleh balita yang mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan standarnya sehingga mengakibatkan dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Tentu kondisi tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya stunting yaitu anemia.
Spesialis gizi klinik dr. Nurul Ratna Mutu Manikam menyampaikan, berdasarkan hasil penelitian pada anak usia 612 bulan menunjukkan bahwa anak yang anemia cenderung mengalami growth faltering.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Nurul dalam acara Aksi Gizi Generasi Maju bertajuk Wujudkan Generasi Maju Bebas Stunting dengan Isi Piringku kaya Protein Hewani pada 9-10 Februari 2023 di Lombok, NTB.
Sementara itu, persentase kasus anemia yang terjadi di Indonesia juga terbilang tinggi terutama pada fase bayi hingga anak-anak.
Hasil survei Riskesdas pada tahun 2018 mencatat sebesar 26,8% anak usia 5-14 tahun menderita anemia dan 32% pada usia 15-24 tahun.
Sementara dr. Nurul mengungapkan bahwa ada sebanyak 5060 persen kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi.
Terkait hal itu, dr. Nurul menjelaskan, defisiensi zat besi menyebabkan pembentukan sel darah merahnya turun, umur sel darah merah itu menjadi lebih muda. Sehingga sel darah merahnya itu tidak cukup untuk membuat metabolisme tubuh menjadi optimal.
Hb atau sel darah merah adalah transporter utama untuk oksigen, di mana oksigen ini digunakan oleh semua metabolisme tubuh yang ada di dalam sel. Metabolisme sel itu butuh energi, protein (karena protein itu adalah zat pembangun), dan oksigen. Kalau salah satunya tidak tercukupi dengan baik, maka metabolismenya tidak berjalan dengan optimal. Akhirnya terjadinya faltering growth atau gangguan pertumbuhan yang nanti di kemudian hari bisa menjadi stunting, terangnya.
Gejala Anemia Pada Anak-anak
Lebih lanjut, anemia pada anak -anak perlu diwaspadai. Mengingat pada fase awal balita atau anak-anak mengalami anemia cenderung tidak menunjukkan gejala yang khas.
Bahkan, tidak sedikit anak yang mengalami anemia, tetapi tidak merasakan adanya keluhan apapun.
Maka dari itu, di banyak kasus, anemia baru bisa terdeteksi saat masalah kesehatan ini sudah berkembang pada tahap yang lebih serius.
Pada tahap itu menunjukkan adanya komplikasi, seperti gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak atau muncul masalah pada organ tubuh tertentu, seperti otak, ginjal, dan jantung.
Meski demikian, orang tua dapat mengenali beberapa gejala anemia pada balita atau anak-anak dengan melihat tanda-tanda berikut ini:
Sementara pada anak yang sudah sekolah, biasanya gejalanya juga berupa sulit belajar dan berkonsentrasi, haid tidak teratur,
Kemudian terkait faktor penyebab, ada faktor-faktor lain yang juga turut menyebabkan balita hingga anak-anak dapat terkena anemia selain defisiensi zat besi.
Berikut ini beberapa faktor yang menjadi penyebab balita hingga anak-anak mengalami anemia:
Cara Menangani Balita atau Anak-anak yang Mengalami Anemia
Dari faktor-faktor tersebut cukup jelas bahwa nutrisi atau gizi menjadi salah satu faktor yang riskan menyebabkan balita atau anak-anak mengalami anemia .
Dengan demikian, pola hidup dan nutrisi yang dikonsumsi oleh balita atau anak-anak tentu perlu diperhatikan agar tubuh tidak terkena anemia.
Selain itu, ada cara lain yang juga dapat membantu anemia pada balita atau anak-anak, di antaranya:
Penelitian mengungkap bahwa salah satu cara untuk mengatasi anemia pada balita atau anak-anak yaitu dengan memberikan suplemen zat besi. Pasalnya, ada anemia yang terjadi karena kebutuhan zat besi anak tidak terpenuhi.
Oleh karena itu, penting bagi anak mengonsumsi suplemen zat besi yang berkualitas dan telah dijamin mutunya.
Salah satu rekomendasi zat besi yang bagus dan berkualitas yaitu Maltofer .
Maltofer adalah suplementasi zat besi oral untuk mencukupi kebutuhan zat besi pada anak-anak, remaja, dan dewasa.
Adapun Maltofer memiliki beberapa varian produk yakni Maltofer 30 ml Obat Tetes, Maltofer 150 ml Sirup, Maltofer Tablet Kunyah dan Maltofer Fol Tablet Kunyah.
Dalam pemberian suplemen zat besi pun harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
Berikut ini dosis pemberian suplemen zat besi pada balita atau anak-anak:
Anak 1 12 tahun
Anemia defisiensi besi 5 10 mL per hari (50-100 mg zat besi),
Kekurangan Zat Besi 2,5 5 mL per hari (25-50 mg zat besi).
Anak >12 tahun:
Anemia defisiensi besi 10 30 mL per hari (100 300 mg zat besi),
Kekurangan Zat Besi 5 10 mL per hari (50 100 mg zat besi).
Pemberian obat cacing atau antibiotik jika anak mengalami anemia juga penting. Terlebih apabila anemia yang terjadi karena adanya infeksi bakteri atau infeksi akibat parasit.
Penghentian atau penggantian obat yang menyebabkan anemia juga penting dilakukan apabila terjadi karena efek samping penggunaan obat-obatan.
Transfusi darah sendiri dapat dilakukan apabila anemia yang diderita anak sudah masuk ke tingkatan yang parah.
Transplantasi sumsum tulang dilakukan bila anak mengidap anemia aplastik atau ada gangguan pada sumsum tulang.
Itu tadi beberapa faktor penyebab dan gejala anemia pada balita atau anak-anak yang perlu diwaspadai.
Meski bukan tergolong penyakit mematikan, namun anemia dapat memicu atau menjadi tanda dari penyakit kronis yang diderita anak.
Oleh karena itu, yuk beri nutrisi yang seimbang dan bergizi untuk anak agar terhindar dari anemia.***


