Sembilan Klub Liga2 Utang Gaji Hingga Rp5,4 Milyar untuk 139 Pemain
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali mengungkapkan bahwa sebanyak sembilan klub masih memiliki utang gaji kepada total 139 pemain dengan nilai Rp5.447.594.540.
Ia mengungkapkan, PSSI selaku regulator dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator harus bertindak kepada klub yang belum menyelesaikan kewajibannya. Klub harus melunasi utang gaji terlebih dahulu sebelum kompetisi Liga 2 dimulai.
"Bila belum menyelesaikan tunggakan gaji pemain, jangan izinkan klub tersebut ikut berkompetisi. Bahkan, kalau perlu didegradasi ke kasta terendah atau bahkan dicoret sebagai anggota PSSI," kata Akmal seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (4/9/2023).
"Pembiaran sama saja dengan pelanggaran terhadap regulasi. PSSI harus tegas agar kompetisi bisa berjalan dengan kompetitif, sehat, profesional, dan bermartabat," lanjut Akmal menegaskan.
Ia pun merinci klub-klub yang memiliki utang terhadap pemainnya tersebut. Disebutkan, PSPS Pekanbaru paling banyak dengan Rp1.591.000.000 untuk 26 pemain. Lalu, Persikab Kabupaten Bandung Rp1.313.210.00 untuk 16 pemain, PSKC Cimahi Rp873 juta kepada 29 pemain.
Kemudian, Kalteng Putra Rp653,5 juta kepada 19 pemain, Persiraja Rp388 juta untuk 20 pemain, Gresik United Rp387.633.540 kepada 27 pemain, PSMS Medan Rp127,5 juta kepada dua pemain, Semen Padang Rp93,75 juta, dan Persijap Rp20 juta untuk masing-masing satu pemain.
Dalam AFC Club Lisensing Regulation salah satu dari lima aspek yang mutlak harus dipenuhi klub profesional adalah aspek finansial. Kesehatan keuangan klub menjadi syarat yang tidak bisa ditawar.
"Krisis keuangan klub akan membuka jalan terjadinya match fixing. Bermain dengan bandar judi untuk mendapatkan uang. Ini akan merusak moral sepak bola yang mengedepankan sportifitas dan fair play. Jangan sampai Liga 2 jadi lahan basah pengaturan skor," katanya.
Ia juga berpendapat agar klub yang keuangannya tak sehat lebih baik dibangkrutkan saja. Kebijakan dan ketegasan pengelola Serie A Italia patut dicontoh PSSI dan PT LIB.
Pada 2014, klub ternama AC Parma didegradasi ke kasta terendah Serie D karena dibelit utang.
"Ingat, sebelum kompetisi dimulai klub harus menyertai surat pernyataan bebas utang sebagai syarat verifikasi peserta kompetisi. Nah, bila masih berutang lebih baik dipailitkan saja. Jangan sampai mereka jadi beban saat kompetiai berjalan," ungkap Akmal.
Para pemain pun harus menunjukkan solidaritas dan kekompakkannya. "Bila sampai jelang kick off klub belum melunasi penuggakan gaji lebih baik kompetisi ditunda saja. Para pemain harus kompak melakukan aksi mogok sebagai bentuk solidaritas," kata Akmal.
Ia mengungkapkan, aksi mogok pemain pernah dilakukan di La Liga, Spanyol, pada musim 2011/2012 karena kasus tunggakan gaji yang terjadi di klub Mallorca dan Hercules. Semua pemain, termasuk megabintang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, melakukan aksi mogok selama dua pekan sampai ada penyelesaian.
Aksi tersebut dipimpin Asosiasi Pesepakbola Profesional Spanyol (AFE). Di Indonesia asosiasi seperti itu bernama Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI).
"Semua pemain Divisi Primera dan Secunda Division kompak melakukan aksi mogok sebagai bentuk solidaritas kepada sesama rekannya yang gajinya tertunggak. Semua dilakukan demi kebaikan kompetisi dari potensi masuknya tangan jahat para pengatur skor," kata Akmal.
Menurutnya, sepak bola Indonesia butuh ketegasan, keberanian, dan kekompakkan untuk maju dan berprestasi. Ia menambahkan, sepak bola Indonesia sudah jauh tertinggal. Butuh nyali dan keberanian untuk berlari kencang dengan menegakkan aturan.
"FIFA bisa menjatuhkan sanksi kepada klub bahkan PSSI bila mengabaikan tunggakan gaji. Sekali lagi tunda saja kompetisi kalau masih ada klub yang menunggak gaji atau sekalian saja didegradasi dan dipailitkan," ujar Akmal.
