Cerita Pilot Senior Edward Limbong Selamat dari Awan Cumulonimbus dalam Penerbangan ke Medan
AWAN Cumulonimbus (Cb) kerap jadi momok menakutkan bagi pilot . Pasalnya, awan ini seringkali menjadi penyebab pesawat mengalami masalah di udara bahkan kecelakaan fatal.
Mengutip laman dirgantara-lapan.or.id , awan Cumulonimbus ialah awan tebal pembawa hujan yakni cumulus yang banyak menggumpal di langit sehingga terbentuk seperti bunga kol atau menyerupai kubah.
Biasanya awan ini mengakibatkan hujan dan cuaca buruk lainnya. Karena awan ini berpotensi petir, awan Cumulonimbus sering menjadi ancaman bagi awak penerbangan yang harus dihindari.
Selain mengandung awan dan petir, awan cumulonimbus dianggap berbahaya karena mengandung aliran listrik yang sangat dahsyat. Awan cumulonimbus ini berada pada ketinggian rendah dan mempunyai gumpalan yang besar dan berwarna hitam.
Terkait awan Cumulonimbus, pilot senior Kapten Edward F. Limbong membagikan sebuah video saat ia melakukan penerbangan pagi. Dirinya hampir terhalang awan Cumulonimbus yang terkenal sangat bahaya.
Video berdurasi sekira 22 menit berjudul \'Subuh2 Dihadang Awan Cumulonimbus\' ini berawal saat dirinya hendak terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang menuju Bandara Internasional Kualanamu, Medan, Sumatera Utara dengan jadwal penerbangan pagi.
"Oke, good morning semuanya, selamat pagi. Pagi ini kita akan terbang ke Medan," kata Capt Edward mengawali cerita, dilansir dari channel YouTube-nya.
Capt Edward juga membagikan suasana di dalam kokpit ketika pesawat yang akan dioperasikan oleh rekan kopilotnya akan take off atau lepas landas dan diperdengarkan juga percakapan antara kopilot dengan petugas ATC.
"Pesawatnya bagus, cuaca di udara berawan, di Medan bagus. Sampai ketemu di atas. God bless you," timpalnya.
Setelah berhasil mengudara dengan mulus, Capt Edward kemudian memperlihatkan alat pendeteksi cuaca (weather radar) yang ada di kokpit seraya menjelaskan; "Nah ini ya guys, pagi-pagi cuacanya begini tuh, magenta. Jadi kita mau menghindar nih," kata sang pilot.
Perlu diketahui, terdapat empat warna yang ditampilkan pada weather radar, di antaranya green, yellow, red, dan magenta. Warna-warna tersebut menunjukkan tingkat bahaya suatu awan.
Nah, untuk warna magenta yang disebutkan oleh Capt Limbong menunjukkan adanya awan berbahaya yang mengindikasikan pusat dari awan badai dan dapat mengakibatkan turbulensi hebat.

Biasanya juga, warna magenta mengindikasikan di depan pesawat ada awan Cumulonimbus dan sebaiknya dihindari.
Untungnya, pesawat tersebut berhasil menghindari awan Cumulonimbus dan mendarat mulus dengan selamat di runway Bandara Internasional Kualanamu, Medan.
"Oke, guys. Selamat datang di Medan, Kualanamu. God bless you," kata Kapten Limbong seraya berlalu.