Naomi Arrin Daraswasih, Perias Jenazah yang Kerap Dititipi "Pesan"
Menjadi seorang perias jenazah bukanlah pilihan Naomi Arrin Daraswasih. Namun, dia merasa itu adalah panggilan dari Tuhan. Sebab, sejak kecil dia dikaruniai kelebihan dari Sang Kuasa.
MARIYAMA DINA, Surabaya
BARU bergabung dengan organisasi perias jenazah sekitar akhir tahun lalu, Naomi bisa dianggap masih sangat pemula. Tapi, pengalamannya sejauh ini tidak sedikit. Meski begitu, memang baru akhir tahun lalu dia memantapkan hati untuk menjadi seorang perias jenazah.
Usia Naomi masih 24 tahun. Para perempuan seusianya pada zaman sekarang akan lebih memilih menjadi make-up artist di bidang wedding, kecantikan, maupun beauty content creator. Tapi, Naomi lebih memilih mendandani mereka yang segera dikebumikan.
"Saya kebetulan ada pemberian dari Tuhan. Bisa melihat dan kadang juga berinteraksi dengan yang tak kasatmata. Sudah dari kecil, tapi memang tidak terarah maksud dari pemberian ini," ujar Naomi saat ditemui dalam gathering make-up artist beberapa waktu lalu di Dyandra Convention Center.
Dari pemberian itu, dia merasa pasti ada sesuatu yang harus dilakukannya. Akhirnya perempuan asal Surabaya tersebut memilih melayani mereka yang telah meninggal.
"Karena sebagai perias jenazah, saya harus memastikan bahwa jenazah yang kita rias ini dalam keadaan paling baik. Meskipun itu meninggal karena kecelakaan, sakit, ataupun korban pembunuhan," lanjutnya.
"Bisa menutupi setiap luka-luka jenazah pun menjadi hal paling penting bagi setiap perias jenazah. Tapi, memang saat ada luka, harus ditutup dulu dengan teknik khusus. Baru kemudian dirias. Pokoknya, jenazah itu nggak boleh kelihatan dia meninggal dengan keadaan tidak siap,' jelasnya detail.
Dalam kasus lain, saat jenazah itu punya penyakit menular, perias juga harus mengerti bahwa alat yang digunakan jenazah tersebut harus sekali pakai. Dari situ, memastikan semua alat merias dalam keadaan bersih dan tidak menularkan penyakit juga penting. "Jadi, saya harus tahu riwayat penyakit orang yang meninggal. Karena ini penting," imbuhnya.
Mendagri Akui Pemerintah Kurang Siap Hadapi Bencana di Aceh-Sumbar: Skalanya Luas dan Cepat
Dengan begitu, menjadi seorang perias jenazah tentu bukan hal yang tidak bisa disyukuri. Justru dia merasa sangat bersyukur. Sebab, profesi tersebut tidak sembarangan. "Mungkin sekarang ini yang menjadi make-up artist itu banyak. Tapi, nggak semua akan mau dan bisa untuk menjadi seorang perias jenazah," terangnya.
Terlebih saat merias jenazah, Naomi juga sering menjadi perantara penyampaian pesan dari yang telah meninggal ke keluarga atau kerabat dekat mereka.
"Saya pernah harus merias korban pembunuhan. Tapi, waktu itu atmosfernya sangat kuat sampai saya sempat pingsan, ceritanya. Yang dimaksud dengan atmosfer kuat adalah dirinya sampai diberi penglihatan akan peristiwa yang terjadi pada korban pembunuhan tersebut. Tidak sekadar titip salam, tapi memberi penglihatan yang jelas seperti itu tentu juga menguras tenaganya."










