Artis Ramai-Ramai Jadi YouTuber

Berita Utama | sindonews | Published at Sabtu, 29 Agustus 2020 - 10:35
Artis Ramai-Ramai Jadi YouTuber

Pelaku seni yang biasa hadir di layar kaca, satu per satu mulai merambah kanal Youtube. Mereka membuat program acara sendiri dengan gaya dan idealisme sendiri. (Baca: Gadis Desa Purwodadi Jadi Artis TikTok 7,8 Juta Followers)

Daniel Mananta, misalnya, belum lama ini meluncurkan kanal pribadinya di YouTube. Semula dia sempat tidak tertarik masuk dunia YouTube. Namun, pandemi Covid-19 membuatnya harus mencoba kegiatan baru dengan memproduksi konten video untuk YouTube.

Dengan menggandeng rumah produksi Fremantle Indonesia, Daniel siap menyajikan obrolan berbeda dengan para figur publik Tanah Air. Di kanal Daniel Mananta Network, dia hadir membawa misi khusus.

"Kami sedang dihadapkan dalam situasi ketidakpastian. Entah sampai kapan pandemi ini berakhir. Tema ini saya coba angkat ke kehidupan teman-teman artis. Bagaimana ketidakpastian hidup yang pernah mereka alami," ujar Daniel. (Baca juga: Gunakan Teknologi Tepat Guna, Layanan Posyandu Bisa Meningkat)

Menurutnya, ide konten dia terilhami pengalaman teman-temannya sesama artis. Sebutnya saja saat Ari Lasso dikeluarkan dari Dewa 19, dia mengalami ketidakpastian dalam karier sebelum akhirnya mengambil langkah menjadi penyanyi solo. Begitu juga Maia Estianty saat bercerai dari Ahmad Dhani sempat merana karena tidak bisa bertemu ketiga putranya.

Pada akhirnya Daniel merasa mereka yang berbagi cerita itu memiliki satu benang merah yang sama. Saat merasakan ketidakpastian itu mereka mendekatkan diri kepada Tuhan.

Inilah waktu tepat untuk membicarakan soal spiritual dan ternyata diterima oleh penonton. Harapan Daniel, penonton dapat belajar dari publik figur yang diwawancarainya ketika melewati hal yang sama.

Daniel menjelaskan, perbedaan dengan konten yang selama ini dilakukannya di televisi, yakni membawakan konsep orang lain. Tetapi di kanal miliknya ini dia menggunakan konsepnya. Dia mengakui, untuk kreativitas memang tidak sehebat mereka yang paham industri penyiaran, tapi Daniel sangat menikmati karena idealismenya dapat tersalurkan. (Baca juga: Memanas, China Usir Kapal Perang AS dari Laut China Selatan)

"Lebih sulit untuk meraih perhatian penonton karena di Youtube kan produksi kecil, tidak seperti Indonesia Idol yang sudah dikenal dan ditonton jutaan pemirsa. Untuk dapat 10 ribu viewers saja susah sekali, yang terjadi malah enggak percaya diri. Jangan- jangan pada enggak mau nonton saya," ungkap mantan VJ MTV ini.

Ketidakpercayaan diri ini hadir semata-mata karena Daniel baru terjun di Youtube. Dia masih membandingkan viewers dengan kanal artis lain yang lebih wah sehingga dia harus membuat prioritas.

"Sekarang lebih fokus saja dengan sambutan baik dari para penonton yang merasa senang dengan konten yang saya buat karena banyak yang jadi bersemangat saat menonton Youtube saya. Padahal, tadinya sudah hampir putus asa. Itu yang harus saya kejar terus," ucap Daniel bersemangat.

Perbedaan lain yang Daniel alami ialah tidak adanya persaingan dengan sesama pemilik kanal Youtube. Justru yang ada kolaborasi dengan sesama artis alias saling membantu.

Daniel menyebut, Baim Wong yang salurannya sudah besar tapi ada niat untuk kolaborasi dengan dia demi membantu mendongkrak Daniel Mananta Network. "Dinamika Youtube berbeda bukan saingan program lagi, malah saling dukung antarkanal," sebutnya. (Baca juga: Bopong Senjata dan Radar Canggih, Pesawat F-16 TNI AU Semakin Garang)

Sistem kerja dan pembayaran di Youtube pun tentu berbeda. Itu yang membuat konten di YouTube harus siap tidak ada bayaran di awal. Caranya tentu dia harus membuat banyak konten video agar dapat menarik minat penonton hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Semakin bekerja keras maka akan semakin banyak yang didapatkan. Dan itu berbeda dengan di TV, yakni bekerja seperti biasa sesuai kontrak kemudian dibayar.

Yang jelas, disiplin dalam membuat konten Youtube itu yang agak menyulitkan Daniel sehingga dibutuhkan motivasi dari dalam diri sendiri. Apa yang dilakukannya di Youtube memang masih sampingan karena dia tidak terlalu mengharapkan bayarannya. Dia hanya berharap impact karena ini sebuah program idealismenya.

"Ladang rezeki saya tetap menjadi MC off air maupun on air di televisi. Belum fokus untuk mengejar pendapatan melalui Youtube, tapi enggak ada yang tahu ke depannya. Seperti clothing line milik saya yang awalnya sebagai sampingan, ternyata sekarang sudah memberi keuntungan yang menjanjikan," ungkap Daniel.

Hal senada terjadi pada aktor sekaligus politisi Lucky Hakim. Setahun sesudah Lucky Hakim Channel hadir dia mengaku belum serius mengelola kanalnya hingga membentuk tim produksi. Kesibukan di dunia hiburan dan politik membuatnya masih kesulitan mengatur waktu. (Baca juga: Mencekam, Polsek Ciracas Dibakar Gerombolan Orang Tak Dikenal)

Namun, dalam setahun terakhir Lucky rajin mengunggah video sesuai hobinya, yakni seputar hewan peliharaan. "Saya buat video karena ingin berbagi, mengenalkan hewan kesayangan. Kasih tips soal binatang. Belum rutin upload. Kalau ada waktu libur saja," paparnya.

Lucky juga kerap hadir menjadi bintang tamu di sejumlah kanal Youtube para artis, seperti Irfan Hakim. Rupanya Irfan inilah yang mengenalkan Lucky pada dunia Youtube.

Meskipun belum fokus di Youtube, Lucky Hakim Channel sudah memiliki 664 subscriber dan menghasilkan belasan hingga puluhan juta rupiah. "Penghasilan dari Youtube masih di bawah Rp50 juta. Sudah lumayan, namun masih belum bisa diseriusi. Selama ini saya syuting tidak menggunakan juru kamera. Saya sendiri yang memegang kamera. Dengan satu editor yang nanti membuat video," sambungnya.

Menurut Lucky, perbedaan Youtube dan televisi adalah tidak adanya sistem kerja. Karena pernah menggarap sendiri program televisi, Lucky tidak begitu kaget ketika harus mengonsep semuanya sendiri dari awal. Hanya, dia menyoroti mengenai pembayaran di Youtube lebih teratur setiap bulan. (Baca juga: Indonesia Tidak Akan Selamat, waktu 1,5 Tidak Cukup Hindari Resesi)

"Bulan ketiga kanal saya sudah saya monetisasi, sejak saat itu setiap bulan saya rutin menerima uang, sudah seperti gajian. Berbeda dengan TV yang pembayarannya bisa 3-6 bulan kemudian," ungkapnya.

Sementara itu, pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, fenomena Youtube yang dipenuhi para artis televisi adalah dampak dari tawaran pekerjaan televisi yang berkurang, sementara eksis itu masih penting bagi mereka. Jadi, media sosial digunakan maksimal mulai Instagram hingga YouTube. "Kalau mereka konsisten dan mampu membuat daya tariknya sendiri, akan lumayan menghasilkan meskipun masih jauh dari penghasilan mereka di televisi," ujarnya.

Hal paling penting, kanal pribadi itu seperti ruang untuk berekspresi hingga bebas mengatur waktu bekerja sesuai keinginan mereka. Enda menegaskan, konten apa pun yang dibuat para artis televisi ini bagi Youtube tidak berdampak.

Sekalipun konten yang nantinya akan sama dengan televisi tidak masalah karena sesungguhnya tidak ada aturan baku konten seperti apa yang harus ada di Youtube. Justru dengan banyaknya video yang hadir di YouTube memberikan berbagai pilihan yang lebih banyak genre maupun artis. Sebab, di televisi cenderung monoton dan bisa jadi artisnya selalu sama.

"Saya lihat justru persaingan antarplatform media sosial yang berebut perhatian penonton. Bukan lagi antar channel di televisi atau persaingan Youtube dan televisi. Tapi dengan seluruh platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, semua bersaing merebut waktu para pengguna," urainya. (Lihat videonya: Dua Kali Ditangkap Warga, Macan Tutul Jawa Dilepas Liarkan ke Habitatnya)

Bukan hanya di Youtube para selebriti kini memiliki kanal mereka sendiri. Ada pula podcast layaknya kanal siaran radio. Dua pasangan selebritas Tarra Budiman dan Gya Sadiqa serta Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion turut meramaikan podcast dengan nama kanal mereka yakni Podcastdaritadi.

Sebelumnya, kedua pasangan ini sudah memiliki kanal YouTube yang cukup digemari. Mereka kerap membagikan momen berharga keluarga seperti saat melahirkan dan liburan. "Saya dan Gya ingin menjadi mata bagi penonton yang ingin melihat keindahan alam. Ada di dalam negeri maupun luar negeri. Kami memosisikan sebagai penonton yang ingin tahu suasana sekitar," ungkap Tarra. (Ananda Nararya)

Artikel Asli