Bahaya Penggunaan Peluru Gas Air Mata yang Kadaluarsa pada Tubuh Manusia

Bahaya Penggunaan Peluru Gas Air Mata yang Kadaluarsa pada Tubuh Manusia

Berita Utama | BuddyKu | Selasa, 11 Oktober 2022 - 17:10
share

Tembakan peluru gas air mata sepertinya sudah menjadi rutinitas yang kerap kita lihat saat ada kerusuhan dimana pun berada.

Senjata ini dianggap sangat efektif untuk meredam dan juga membubarkan massa yang membludak diluar kendali karena gas ini langsung bereaksi pada saat bersentuhan dengan organ tubuh. Sensasi terbakar pada mata, kulit hingga saluran pernapasan membuat banyak orang akhirnya mengurungkan niatnya untuk berbuat anarkis dan memilih menyelamatkan diri.

Meskipun dianggap tidak membahayakan bagi tubuh, namun gas air mata dalam kondisi kadaluarsa maupun tidak, tetap saja memberikan pengaruh buruk terhadap tubuh manusia.

Peluru gas air mata yang ditembakan akan langsung bekerja dan menyerang selaput lendir pada mata, hidung, mulut serta paru-paru. Efeknya gas air mata ini akan membuat orang yang terpapar langsung merasakan perih di sekitar mata dan disertai produksi air mata yang berlebih sebagai reaksi dari iritasi tersebut.

Berselang setelah efek pertama tersebut, orang yang terpapar gas air mata kemudian bisa merasakan rasa sesak nafas, nyeri pada dada, iritasi di bagian kulit terluar bahkan produksi air liur yang berlebihan. Dengan paparan terberat bisa menyerang sistem pencernaan yang bisa menyebabkan muntah-muntah bahkan diare.

Bahaya Gas Air Mata Kedaluwarsa

Peluru gas air mata tentu memiliki masa kadaluarsa karena sejatinya benda tersebut merupakan produk kimia yang diciptakan oleh manusia, saat gas air mata sudah mencapai masa kadaluarsanya banyak komponen yang membentuk gas tersebut menjadi terurai ke dalam bentuk senyawa yang jauh lebih sederhana. Kondisi ini malah sempat disepelekan karena dianggap gas air mata tidak lagi efektif digunakan.

Tetapi, ada penelitian dari seorang dosen Kimia dari Simon Bolivar University, Monica Krauter di Venezuela yang melakukan penelitian terhadap ribuan kaleng dari gas air mata dari aksi unjuk rasa di negara tersebut pada tahun 2014. Sebanyak 72 persen dari ribuan kaleng yang dikumpulkan, ternyata sudah kadaluarsa.

Monica kemudian melakukan penelitian lanjutan untuk melihat komponen dari gas air mata kadaluarsa tersebut, dan mencari tahu dampak yang dihasilkan jika terpapar pada manusia. Ia menemukan senyawa yang terurai setelah gas air mata kadaluarsa berubah menjadi gas sianida, fosgen, dan nitrogen. Tentu gas tersebut jauh lebih berbahaya jika sampai terhirup oleh manusia dibandingkan gas air mata itu sendiri.

Senyawa tersebut bersifat racun bagi tubuh manusia, dalam jumlah kecil gas sianida bisa larut oleh selaput lendir dan masuk kedalam sel tubuh manusia. Namun jika paparannya cukup banyak sel tubuh kita akan kesulitan dalam menggunakan oksigen dan berpotensi merusak organ tubuh lainnya.

Di sisi lain, Fosgen dianggap sebagai salah satu gas paling berbahaya, fosgen tak bisa terdeteksi dengan warna maupun baunya. Efek yang seringkali muncul jika seseorang terpapar fosgen, ia akan mengalami efek paling ringan berupa iritasi dengan efek terparahnya bisa menyerang fungsi jantung.

Nitrogen yang terkandung dalam peluru gas air mata kadaluarsa juga tak kalah bahayanya, meski gas ini menjadi penyusun atmosfer di bumi kita. Nyatanya nitrogen hanya aman jika ia terikat dengan oksigen, namun jika nitrogen murni terhirup oleh manusia, bisa dipastikan penggunaan oksigen dalam tubuh akan terhambat dan itu sangat berbahaya.

Bahkan asosiasi dokter Kashmir di India juga memberikan pernyataan yang serupa tentang penggunaan gas air mata yang sudah kadaluarsa, mereka mengatakan penggunaan yang salah bisa menyebabkan luka bakar, asma, kejang, kebutaan dan meningkatkan resiko terjadinya keguguran pada ibu hamil.

Topik Menarik