Loading...
Loading…
Pemerintah Xinjiang Sebut Kabar Muslim Uighur Berpotensi Terinfeksi Virus Korona Hoaks

Pemerintah Xinjiang Sebut Kabar Muslim Uighur Berpotensi Terinfeksi Virus Korona Hoaks

Berita Terkini | inewsid | Selasa, 25 Februari 2020 - 09:57

BEIJING, iNews.id - Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang memastikan tidak ada penularan virus corona atau Covid-19 di kamp pendidikan vokasi yang dihuni muslim etnis Uighur.

Disebutkan, tidak ada penularan virus di lingkungan lembaga pendidikan dan pelatihan keterampilan karena peserta didik sudah lulus sejak 2019.

"Misinformasi, seperti pusat pendidikan dan pelatihan keterampilan di Xinjiang berisiko menyebarkan virus korona, lalu ada juga berita Pemerintah China memanfaatkan virus korona untuk membantai sejuta muslim di kamp-kamp vokasi. Semuanya rekayasa dan fitnah sehingga dengan tegas kami menentangnya," kata Juru Bicara Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang, Ilijan Anayt.

Dalam konferensi pers pada 9 Desember 2019, Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir mengatakan didirikannya beberapa kamp vokasi di daerahnya itu bertujuan untuk menangkal terorisme dan radikalisme.

Dia merasa yakin keberadaan kamp-kamp tersebut sangat efektif sehingga wilayah yang berbatasan langsung dengan Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India itu bebas terorisme sejak 3 tahun terakhir.

Sejak wabah Covid-19 mewabah, otoritas Xinjiang melakukan upaya pengendalian dan pencegahan sebagaimana arahan Komite Sentral Partai Komunis China (CPC).

Semua warga dari kelompok etnis mana pun harus terjaga kesehatannya.

"Kami telah melakukan upaya-upaya pencegahan dan pengendalian. Tidak ada kasus korona di kamp vokasi dan penjara di Xinjiang," ujarnya.

Berdasarkan data Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), di Xinjiang terdapat 76 kasus virus korona, sebanyak dua orang di antaranya meninggal dan 30 lainnya sembuh.

China dihujani kritik dari masyarakat internasional atas perlakuan mereka yang dianggap menindas sebagian besar warga etnis Uighur, kelompok minoritas muslim di negeri itu.
Mereka ditahan di kamp-kamp khusus dengan dalih pendidikan dan menangkal terorisme.

Pada Agustus 2018, komite PBB mendapat laporan bahwa 1 juta warga Uighur dan kelompok muslim lainnya ditahan di Xinjiang barat. Di sana mereka menjalani program \'reedukasi\' atau \'pendidikan ulang\'.

Berdasarkan sensus di China, populasi Uighur sebanyak 7,2 juta jiwa atau 45 persen dari 15 juta warga Xinjiang, selain Kazakh, Kyrgyz, Tatar, dan etnis mayoritas seperti Han. Namun Uyghur American Association menyebut jumlah mereka sekitar 11,3 juta sampai15 juta jiwa.

Amnesty International menulis surat kepada otoritas penjara, pemerintah otonom di Xinjiang, dan pemerintahan China agar warga etnis Uighur yang ditahan segera dibebaskan.

Namun Pemerintah China membantah tudingan yang juga disampaikan berbagai kelompok HAM.

Original Source

Topik Menarik