Loading...
Loading…
Erdogan Kecam Negara Arab yang Dukung Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump

Erdogan Kecam Negara Arab yang Dukung Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump

Berita Terkini | inewsid | Jumat, 31 Januari 2020 - 18:47

ANKARA, iNews.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam beberapa negara Arab karena mendukung rencana perdamaian Timur Tengah yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Bahkan, Erdogan dengan keras menyebut negara-negara Arab tersebut telah berkhianat, tak hanya kepada Palestina tapi juga umat manusia.

"Beberapa negara Arab yang mendukung rencana semacam itu telah berkhianat terhadap Yerusalem, terhadap rakyat mereka sendiri, dan yang lebih penting terhadap semua umat manusia," kata Erdogan, di Ankara Jumat (31/1/2020), seperti dikutip dari AFP .

Pernyataan Erdogan itu ditujukan kepada Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman, yang merupakan sekutu AS.

"Arab Saudi khususnya, Anda diam. Kapan Anda akan memecah keheningan? Anda sama dengan Oman, Bahrain, dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab)," ujarnya.

Dia menegaskan, Yerusalem, tempat suci bagi umat Islam, bukan untuk diserahkan ke Israel.

"Kami tidak pernah mengakui dan menerima rencana (perdamaian) yang merampas Yerusalem sepenuhnya. Yerusalem tidak bisa diserahkan pada cakar berdarah Israel," kata Erdogan.

Erdogan memperingatkan bahwa setiap orang akan bertanggung jawab atas konsekuensi besar yang mereka ambil untuk mendukung Israel.

Baca Juga :
Dukung Rencana Perdamaian Trump, Erdogan Sebut Arab Pengkhianat

Lebih lanjut Erdogan akan berbicara dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Ismail Haniya membahas persoalan ini.

Hubungan Turki dengan Saudi dan Uni Emirat memburuk setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di kantor konsulat di Istanbul pada Oktober 2018.

Turki berulang kali mengungkapkan rasa yakin bahwa kontributor Washington Post itu dibunuh atas perintah pejabat Saudi, meski hal itu dibantah kerajaan.

Konflik juga dipicu rencana Turki untuk mengirim pasukan ke Libya. Turki mendukung pemerintahan Libya yang diakui PBB, sementara Saudi dan Uni Emirat mendukung komandan Khalifa Haftar, yang kini menguasai tiga perempat wilayah Libya.

Trump pada Selasa lalu mengumumkan rincian rencana perdamaian Timur Tengah yang bertujuan menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Namun usulan Trump itu sangat kontroversial dan bertolak belakang dengan kesepakatan damai solusi dua negara yang disetujui dalam Perjanjian Oslo. Trump mengatakan Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota Israel yang tak dapat dibagi-bagi. Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017 yang disusul pada Mei 2018 dengan memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Baca Juga :
Iran Sebut Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump "Pengkhianatan Abad Ini"

Original Source

Topik Menarik