Loading...
Loading…
Tak Mau Disebut Gagap Bencana, DKI Tegaskan Banjir Jakarta karena Curah Hujan Ekstrem

Tak Mau Disebut Gagap Bencana, DKI Tegaskan Banjir Jakarta karena Curah Hujan Ekstrem

Berita Terkini | inewsid | Sabtu, 04 Januari 2020 - 08:45

JAKARTA, iNews.id - Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pemprov DKI Jakarta dan Badan Nasiobal Penanggulangan Bencana (BNPB) menepis anggapan yang menyebut banjir di Jabodetabek karena kegagalan sistem peringatan dini dan tanggap bencana. Banjir dipicu hujan deras. Intensitas curah hujan termasuk ekstrem.

Sekretaris Dinas SDA DKI Dudi Gardesi mengatakan, sistem peringatan dini (early warning system) banjir tidak terlambat. Banjir terjadi karena curah hujan sangat tinggi.

"Enggak gagap bencana. Ini memang luar biasa kejadiannya. Saya bukan expert (ahli) mengenai periode hujan yang datang saat ini. Tetapi menurut staf saya yang menghitung curah hujan, memang ketegorinya ekstrem," kata Dudi dalam diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk Banjir Bukan Takdir di Sasana Krida Karang Taruna Bidara Cina, Kampung Melayu, Jakarta (4/1/2020).

Kepala Badan Pusat Pengendalian Operasi BNPB Bambang Surya Putra mengungkapkan hal senada. Menurut dia, hujan lebat membuat sungai-sungai di daerah Jakarta san sekitarnya tidak dapat menampung air secara maksimal.

"Curah hujan 375 milimeter untuk satu hari itu cukup lebat. Sedangkan daya tampung sungai kita ini cuma 60 sampai 100. Artinya dengan curah hujan tinggi, tentunya mengakibatkan banjir yang masif," katanya.

Bambang menerangkan, selama dua minggu berturut-tutur Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini agar masyarakat bersiap menghadapi cuaca ekstrem. Sayangnya, kontinuitas informasi dirasa kurang.

Menurut dia, sebenarnya di beberapa kota besar sudah terpasang sebuah sirine yang berfungsi sebagai alat peringatan ketika ketinggian air terus bertambah. Dia tidak tahu apakah sirine ini berbunyi ketika banjir menerjang.

"Khusus di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, dan Bekasi sebetulnya sudah ada juga. Di sungainya tersedia sirine," tutur Bambang.

Dia mengatakan, di beberapa daerah yang menjadi langganan banjir, warga terlihat lebih tanggap dalam mengantisipasi bencana. Mereka dapat dengan bijak dalam mengambil keputusan penyelamatan pertama sesuai pengalaman mereka sebelumnya.

"Seperti di daerah Ciliwung, karena sudah terbiasa, mereka sudah melihat tanda-tanda alam ketika air sungai semakin keruh. Mereka sudah paham bahwa ini akan ada banjir sekian jam. Mereka pantau debit air dari radio dan papan tulisan yg ada di sekitar daerahnya sehingga sirine itu sifatnya hanya menguatkan," kata Bambang.

Original Source

Topik Menarik