Loading...
Loading…
Kisah Perawat Pasien Virus Korona: Tak Diizinkan Makan, Istirahat atau Pakai Toilet saat Kerja

Kisah Perawat Pasien Virus Korona: Tak Diizinkan Makan, Istirahat atau Pakai Toilet saat Kerja

Berita Terkini | inewsid | Sabtu, 08 Februari 2020 - 20:21

BEIJING, iNews.id - Lebih dari 700 orang meninggal dunia akibat terjangkit virus korona baru yang mulai mewabah sejak akhir tahun lalu. Meski demikian, informasi mengenai apa yang terjadi di lapangan di China, sumber wabah ini, sangat terbatas.

Awalnya, media di negara tersebut dapat memberitakan kabar mengenai epidemi ini secara rinci.

Namun belakangan, penyedia layanan internet bahkan menghapus beberapa artikel yang mengkritik upaya pemerintah untuk membatasi penyebaran virus.

Pejabat juga bahkan membatasi penyebaran peringatan-peringatan yang dibagikan seorang dokter saat virus korona mulai menyebar.

Dalam kesempatan yang langka, BBC berbicara dengan seorang pekerja medis di Hubei, provinsi yang menjadi pusat wabah ini. Untuk melindungi identitasnya, dia hanya ingin diidentifikasi dengan nama keluarganya, Yao.

Yao bekerja di sebuah rumah sakit di kota kedua terbesar di Hubei, Xiangyang.

Dia bekerja di "klinik demam" dan bertugas menganalisis sampel darah dari orang-orang yang diduga terpapar virus korona.

Sebelum wabah ini tersebar, Yao tengah merencanakan untuk plesir ke Guangzhou untuk merayakan imlek bersama keluarganya.

Anak dan ibunya sudah berangkat terlebih dahulu. Tapi ketika wabah menyebar, Yao memutuskan untuk bekerja sukarela di Xiangyang.

"Memang benar kita hanya hidup sekali, tapi ada suara di dalam diri saya yang berkata \'anda harus pergi\'," katanya, kepada BBC.

Awalnya, dia harus berjuang meredam keraguannya akan keputusan tersebut.

"Saya mengatakan pada diri saya sendiri: bersiaplah dan lindungilah diri anda baik-baik," kata Yao.

"Bahkan ketika tidak ada pakaian pelindung, saya selalu bisa memakai jas hujan. Jika tidak ada masker, saya bisa meminta teman-teman saya di penjuru China untuk mengirimnya. Selalu ada cara."

Yao mengatakan bahwa ketersediaan perlengkapan pelindung di rumah sakit tersebut lebih bagus dari yang dia bayangkan. Pemerintah mengirimkan perlengkapan sementara perusahaan swasta memberi donasi.

Jika ada kekurangan perlengkapan pelindung, maka tak semua staf terlindungi dengan baik.

"Ini adalah pekerjaan yang sulit, sangat sedih dan membuat patah hati, dan sering kali kami tidak punya waktu untuk memikirkan keamanan kami sendiri," katanya.

"Kami juga merawat pasien dengan hati-hati, karena banyak orang yang datang ke rumah sakit sambil ketakutan, sebagian dari mereka mengalami nervous breakdown."

Untuk mengatasi lonjakan pasien, staf di rumah sakit bekerja selama 10 jam untuk setiap shift. Yao mengatakan tidak ada satu pun yang diperbolehkan makan, minum, beristirahat atau menggunakan toilet saat mereka sedang bekerja.

"Di akhir shift, saat kami melepas peralatan pelindung, baju kami sudah basah karena keringat," katanya.

"Dahi kami, hidung, leher, dan wajah kadang terluka karena masker yang ketat. Banyak dari kolega kami tidur di bangku setelah selesai bekerja, karena mereka terlalu lelah untuk berjalan," katanya.

Meski sulit, Yao mengatakan belum ada staf rumah sakit yang tertular virus.

Dia dan koleganya juga dibanjiri pesan-pesan berisi dukungan dari warga. Warga juga kerap mengirimi mereka kebutuhan sehari-hari dan makanan.

"Saya merasa meskipun mereka dikarantina di rumah, virus ini menyatukan hati kami semua," katanya.

Menurut Yao, respons pemerintah China "lumayan cepat", dan tidak ada negara lain yang bereaksi lebih baik dari ini.

"Di Barat, orang bicara banyak soal kebebasan dan hak asasi manusia, tapi saat ini di China, kita bicara tentang hidup dan mati," kata Yao.

"Kami membicarakan soal apakah kami bisa melihat matahari terbit besok pagi. Jadi semua yang bisa dilakukan adalah bekerja sama dengan pemerintah dan mendukung petugas kesehatan."

Original Source

Topik Menarik